Rusia Dilaporkan Paksa Warga Masuk Militer akibat Krisis Personel Perang Ukraina

3 days ago 12
Rusia Dilaporkan Paksa Warga Masuk Militer akibat Krisis Personel Perang Ukraina Serangan Rusia di Ukraina.(Al Jazeera)

RUSIA dilaporkan mulai melakukan tindakan keras dengan memaksa pria usia tempur untuk masuk ke dinas militer. Langkah ini diambil guna memperkuat barisan tentara yang kian menipis di tengah mandeknya perekrutan sukarela dan melambatnya inisiatif Moskow di garis depan Ukraina.

Di kota-kota kecil Rusia, sejumlah perekrut militer dilaporkan menahan pria di jalanan, di luar tempat kerja, atau dengan dalih pemeriksaan dokumen rutin. Menurut kesaksian pengacara, aktivis hak asasi manusia, dan saksi mata, begitu berada di kantor perekrutan, para pria tersebut sering kali diancam atau dipukuli hingga mereka bersedia menandatangani kontrak untuk berperang.

Metode Kekerasan dan Ancaman

Kampanye tekanan ini memicu kekhawatiran akan ada gelombang mobilisasi baru, serupa dengan mobilisasi parsial yang diperintahkan Presiden Vladimir Putin pada musim gugur 2022. Saat itu, posisi garis depan Rusia goyah akibat kekurangan tenaga kerja.

Meskipun otoritas Rusia menawarkan imbalan uang dalam jumlah besar--sering kali lebih dari gaji setahun--perekrutan menjadi semakin sulit. Hal ini disebabkan oleh maraknya kisah penyalahgunaan di dalam militer Rusia serta meningkatnya kemampuan mematikan Ukraina yang memperpendek usia harapan hidup tentara di garis depan.

"Pihak berwenang beralih ke metode kekerasan. Mereka menangkap pria dan mengirim mereka pergi," ujar Artyom Klyga, seorang pengacara yang membantu warga yang dipaksa masuk dinas militer.

Laporan dari Penza: Di wilayah barat daya Penza, seorang warga bernama Vladislav Leonidov menceritakan rekannya ditahan polisi dengan dalih pemeriksaan data, tetapi justru dibawa ke kantor militer dan dipukuli di bagian organ dalam agar bersedia bergabung.

Sayembara Bawa Teman dan Tekanan Regional

Selain kekerasan fisik, tekanan juga datang melalui program regional yang menawarkan uang tunai kepada pihak ketiga. Di beberapa wilayah seperti Penza, Tatarstan, Amur, dan Yaroslavl, terdapat iklan yang menjanjikan imbalan sekitar 100.000 rubel (sekitar Rp16,5 juta) bagi siapa saja yang berhasil membawa teman ke pusat perekrutan.

Blogger Stanislav Morozov, yang mendokumentasikan masalah ini, mengungkapkan bahwa banyak pria akhirnya menandatangani kontrak setelah aparat mengancam akan menjebak mereka dengan kasus narkoba jika menolak.

Risiko Politik Mobilisasi Baru

Para analis militer memperkirakan kerugian Rusia di garis depan mencapai 30.000 hingga 40.000 personel (tewas dan luka-luka) setiap bulan. Pejabat Amerika Serikat menilai bahwa upaya paksa ini mungkin menambah jumlah personel, tetapi belum cukup untuk menghasilkan terobosan besar.

Spekulasi mengenai mobilisasi paksa putaran kedua terus menguat, terutama jika Putin tetap bersikeras untuk menguasai seluruh wilayah Donbas. Namun, langkah ini membawa risiko politik yang besar. Beberapa warga Rusia, seperti perwira cadangan Dmitry Rogin, 53, bahkan menyatakan akan melakukan perlawanan bersenjata jika dipaksa kembali ke medan perang.

Hingga saat ini, Kementerian Dalam Negeri Rusia membantah ada penggerebekan untuk mengirim orang ke zona Operasi Militer Khusus dan mengancam akan menindak secara hukum siapa pun yang menyebarkan video protes terkait praktik tersebut. (The Wall Street Journal/I-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |