Ilustrasi(Dok Magnific)
ANAK-ANAK umumnya menyukai buku cerita sebagai sarana hiburan sekaligus belajar. Seiring perkembangan teknologi, buku cerita kini tidak hanya tersedia dalam bentuk cetak, tetapi juga dapat dibuat secara digital dengan bantuan kecerdasan buatan (AI).
Teknologi tersebut memungkinkan pengguna membuat cerita yang dipersonalisasi, mulai dari memasukkan nama, foto, hingga karakter anak sebagai tokoh utama dalam buku.
Namun, kemudahan tersebut juga memunculkan perhatian terkait kualitas cerita dan penggunaan data pribadi anak. Menurut laporan WIRED tren ini berkembang di Amerika Serikat setelah sejumlah kakek dan nenek memanfaatkan layanan AI seperti Imagitime, StoryWonderBook, dan Childbook.ai untuk membuat buku cerita bagi cucu mereka.
Meski dimaksudkan sebagai hadiah, sebagian orang tua justru mengaku tidak nyaman karena foto maupun identitas anak dimasukkan ke dalam platform AI tanpa persetujuan mereka.
Keamanan data Anak
WIRED menuliskan bahwa salah satu pengguna Reddit menceritakan ibunya tetap membuat buku cerita berbasis AI untuk cucunya, meski telah diminta untuk tidak mengunggah foto maupun data pribadi keluarga ke layanan AI.
Menurut pengguna tersebut, sang ibu membuat cerita berdasarkan pengalaman cucunya dan menggunakan nama keluarga sehingga dianggap merepresentasikan kehidupan mereka.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terkait privasi data anak. Bagi sebagian orang tua, penggunaan foto dan informasi pribadi pada layanan AI menjadi persoalan penting, terutama terkait transparansi mengenai bagaimana data tersebut disimpan dan dimanfaatkan.
Peneliti dari School of Humanities, Macquarie University, Daozhi Xu, mengatakan kekhawatiran tersebut merupakan hal yang wajar.
Menurutnya, masih terdapat pertanyaan mengenai transparansi penggunaan dan penyimpanan foto anak pada platform AI, sehingga orang tua perlu memahami bagaimana data tersebut dikelola oleh penyedia layanan.
Kualitas Cerita AI
WIRED juga mewawancarai sejumlah orang tua mengenai pengalaman mereka menerima buku cerita berbasis AI. Dari wawancara tersebut, sejumlah orang tua menilai buku cerita berbasis AI belum mampu menarik minat anak
Seorang ayah berusia 41 tahun di Midwest mengatakan kepada WIRED bahwa kedua anaknya yang berusia 7 dan 3 tahun pernah menerima buku cerita hasil AI dari teman maupun anggota keluarga.
Menurutnya, cerita dalam buku tersebut terlalu panjang sehingga anak-anaknya hanya membacanya sekali sebelum kembali memilih buku favorit mereka. Ia menilai anak-anaknya justru merasa bosan meski cerita tersebut dibuat dengan menampilkan diri mereka sebagai tokoh utama.
Pengalaman serupa juga disampaikan seorang ayah berusia 40 tahun di Los Angeles. Ia mengaku ibu mertuanya memberikan empat buku cerita berbasis AI yang menampilkan gambar kedua anaknya.
Namun, ia mempertanyakan penggunaan foto anak-anak dalam layanan AI dan menilai praktik tersebut menimbulkan persoalan dari sisi etika serta privasi.
Menurut Daozhi Xu, personalisasi tidak otomatis membuat anak menyukai sebuah buku. Ia menjelaskan bahwa anak lebih tertarik pada cerita yang memiliki karakter kuat, alur yang menarik, humor, dan dunia imajinatif yang mampu membangun rasa ingin tahu.
Xu juga menemukan buku yang sepenuhnya dihasilkan AI masih kerap memiliki kelemahan, seperti kesalahan ejaan, alur yang tidak konsisten, serta ilustrasi yang tidak selaras dengan isi cerita.
Penggunaan AI dalam pembuatan buku cerita anak menawarkan cara baru untuk membuat cerita yang dipersonalisasi.
Namun, laporan WIRED menunjukkan bahwa kualitas cerita, perlindungan data pribadi, dan transparansi penggunaan informasi anak masih menjadi perhatian di tengah berkembangnya tren tersebut. (Chatrine Simanjuntak/E-4)

















































