Peserta mengikuti tes Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2024. Masalah klasik yang sering dihadapi para pejuang CPNS adalah manajemen waktu.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) masih menjadi impian bagi sebagian masyarakat orang di Indonesia. Stabilitas karier, jaminan hari tua, serta kesempatan untuk mengabdi pada negara menjadi daya tarik yang tak pernah pudar.
Namun, di balik daya tarik tersebut, tersimpan realitas persaingan yang sengit. Pada seleksi 2024, data Humas BKN mencatat hampir 4 juta pelamar bertarung memperebutkan kursi yang terbatas.
Memasuki 2026, tantangan ini diprediksi tidak akan berkurang, melainkan justru semakin menantang. Pemerintah diperkirakan akan memfokuskan formasi pada sektor layanan publik dan transformasi digital, yang artinya kriteria seleksi pun akan menyesuaikan dengan kebutuhan zaman yang serba cepat. Dalam kondisi ini, modal "belajar seadanya" atau sekadar mengandalkan keberuntungan tentu bukan strategi yang bijak.
Antara waktu dan efektivitas belajar
Masalah klasik yang sering dihadapi para pejuang CPNS adalah manajemen waktu. Peserta berasal dari latar belakang yang sangat beragam. Ada lulusan baru (fresh graduate) yang mungkin punya banyak waktu namun minim pengalaman menghadapi tekanan ujian, hingga para karyawan aktif dan ibu rumah tangga yang harus membagi fokus antara pekerjaan, keluarga, dan tumpukan materi SKD (Seleksi Kompetensi Dasar).
Banyak peserta terjebak dalam pola "SKS" atau Sistem Kebut Semalam. Mereka baru mulai menyentuh buku materi saat jadwal ujian sudah di depan mata. Akibatnya, materi yang begitu luas, mulai dari Tes Intelegensia Umum (TIU), Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), hingga Tes Karakteristik Pribadi (TKP), hanya terbaca sekilas tanpa pemahaman mendalam. Belum lagi kendala teknis seperti ketidakterbiasaan menggunakan sistem Computer Assisted Test (CAT), yang sering kali membuat peserta panik karena dikejar durasi waktu saat hari H.

3 hours ago
1















































