SE Pembatasan Gawai di Sekolah dan Ikhtiar Memulihkan Ruang Belajar Anak

1 hour ago 6
MI/Seno MI/Seno(Dok. Pribadi)

HAMPIR tidak ada benda yang lebih dekat dengan anak-anak hari ini selain gawai. Ia telah menjelma menjadi jam alarm, buku catatan, kamera, ruang bermain, sekaligus jendela menuju dunia. Melalui layar di genggaman, anak dapat belajar, berkomunikasi, dan mengakses hampir seluruh pengetahuan hanya dalam hitungan detik. Namun, perangkat yang sama perlahan juga menggeser perhatian, mengubah cara mereka berinteraksi, memandang dunia, bahkan membentuk kebiasaan belajar yang sama sekali baru.

Perubahan itu berlangsung begitu cepat sehingga sering kali luput disadari. Di ruang keluarga, di kendaraan umum, di tempat makan, bahkan di lingkungan sekolah, anak-anak semakin akrab dengan layar dibandingkan percakapan. Waktu yang dahulu diisi dengan bermain bersama teman, membaca buku, atau sekadar mengamati lingkungan sekitar, kini berganti menjadi aktivitas menggulir layar tanpa henti. Gawai tidak lagi sekadar alat bantu, melainkan ruang tempat anak menghabiskan sebagian besar waktunya.

Studi UNICEF tahun 2023 menunjukkan bahwa 99,4% anak Indonesia telah menggunakan internet. Sebanyak 89% mengaksesnya setiap hari dengan rata-rata durasi mencapai 5,4 jam, dan hampir seluruhnya menggunakan telepon seluler sebagai perangkat utama. Yang lebih mengkhawatirkan, lebih dari separuh anak mengaku pernah melihat konten dewasa di media sosial, sementara hampir separuh lainnya pernah mengalami perundungan digital.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa persoalannya bukan lagi sekadar akses terhadap teknologi. Yang sedang berubah ialah cara anak-anak bertumbuh. Karena itulah, perdebatan tentang penggunaan gawai di sekolah sesungguhnya tidak pernah berhenti pada soal boleh atau tidak boleh. Pertanyaan yang jauh lebih mendasar ialah bagaimana memastikan anak tidak kehilangan jiwa dan ruang untuk bertumbuh di tengah derasnya arus teknologi digital.

TANTANGAN BESAR

Perubahan tersebut tidak hanya mengubah cara anak memperoleh informasi, tetapi juga cara mereka memberi perhatian. Di balik berbagai aplikasi digital sesungguhnya berlangsung perebutan perhatian manusia. Setiap notifikasi, video pendek, dan rekomendasi konten dirancang agar pengguna bertahan selama mungkin di depan layar. Para ilmuwan menyebut fenomena ini sebagai attention economy atau ekonomi perhatian, ketika perhatian manusia menjadi komoditas yang diperebutkan. Dalam situasi seperti itu, kemampuan untuk fokus semakin langka.

Padahal, sejak awal berdirinya, sekolah dibangun di atas fondasi yang berbeda. Sekolah bukan sekadar tempat memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid. Ia adalah ruang yang memungkinkan peserta didik melatih perhatian, mengembangkan kemampuan berpikir mendalam, berdialog, bekerja sama, dan membangun karakter. Hampir seluruh proses belajar—membaca, berdiskusi, mengamati, bereksperimen, hingga memecahkan masalah—bertumpu pada satu kemampuan mendasar, yakni memusatkan perhatian.

Karena itu, tantangan terbesar sekolah pada abad ke-21 bukan lagi sekadar menyediakan informasi. Informasi justru semakin melimpah dan mudah diakses. Tantangan sesungguhnya ialah memastikan proses belajar tidak kehilangan ruang untuk berlangsung secara utuh. Sebab, belajar bukan hanya soal menemukan jawaban tercepat melalui mesin pencari, melainkan juga melatih kesabaran berpikir, menyusun argumentasi, dan memahami persoalan secara mendalam.

Fenomena ini juga menjadi perhatian dunia. Berbagai negara mengambil pendekatan yang berbeda dalam mengatur penggunaan telepon seluler di sekolah. Ada yang melarang selama jam pelajaran, ada yang membatasi hanya untuk kepentingan pembelajaran, dan ada pula yang menyerahkan pengaturannya kepada masing-masing sekolah. Meski bentuk kebijakannya berbeda, tujuannya sama, yakni menjaga kualitas proses belajar dan melindungi tumbuh kembang peserta didik.

Kekhawatiran tersebut sejalan dengan temuan psikolog sosial Jonathan Haidt dalam bukunya, The Anxious Generation (2024). Haidt menyebut dunia sedang mengalami pergeseran dari play-based childhood menuju phone-based childhood. Anak-anak semakin sedikit belajar melalui permainan, interaksi langsung, dan eksplorasi lingkungan, tetapi semakin banyak bertumbuh melalui layar. Menurutnya, persoalan utama bukan semata-mata lamanya penggunaan gawai, melainkan berkurangnya kesempatan anak membangun ketangguhan, empati, kemandirian, serta kesehatan mental melalui pengalaman nyata bersama keluarga, teman sebaya, dan lingkungannya.

Jika Haidt berbicara tentang hilangnya sebagian pengalaman masa kanak-kanak, maka dunia pendidikan menghadapi tantangan yang tidak kalah besar: bagaimana memastikan sekolah tetap menjadi ruang yang mengembalikan pengalaman-pengalaman nyata tersebut. Sebab, sekolah tidak hanya bertugas mentransfer pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang tempat anak belajar menjadi manusia.

Di sinilah persoalan penggunaan gawai menemukan maknanya yang lebih mendasar. Pendidikan tidak hanya bertugas mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga menjaga proses bertumbuhnya seorang anak. Jiwa anak dibentuk melalui interaksi, empati, dialog, kemampuan mengelola emosi, serta pengalaman hidup yang tidak seluruhnya dapat digantikan oleh layar digital. Pada saat yang sama, anak membutuhkan ruang tumbuh—ruang untuk bermain, bertanya, bekerja sama, berefleksi, bahkan belajar menghadapi kebosanan sebagai bagian dari proses pendewasaan.

Dalam konteks itulah, Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan menemukan relevansinya. Kebijakan ini bukan semata mengatur penggunaan telepon seluler di sekolah, melainkan merespons perubahan yang lebih mendasar pada cara anak belajar, berinteraksi, dan bertumbuh di era digital.

Sebagaimana disampaikan Mendikdasmen Abdul Mu'ti, pengaturan penggunaan gawai di sekolah bukan sekadar urusan kedisiplinan ataupun pengendalian teknologi. Lebih jauh, kebijakan tersebut merupakan ikhtiar menjaga jiwa dan ruang tumbuh anak agar sekolah tetap menjadi tempat berkembangnya karakter, nalar, kreativitas, serta relasi antarmanusia yang sehat. Teknologi tetap menjadi bagian penting dari pendidikan, tetapi tidak boleh mengambil alih ruang-ruang esensial yang membentuk kemanusiaan peserta didik.

MEMULIHKAN RUANG BELAJAR

Yang hendak dipulihkan sesungguhnya bukan hanya keteraturan di ruang kelas, melainkan kualitas ruang belajar itu sendiri. Sekolah perlu memastikan bahwa perhatian peserta didik tidak terus-menerus dipotong oleh notifikasi, percakapan di media sosial, maupun berbagai distraksi digital lainnya. Dalam perspektif ini, pembatasan gawai bukanlah tujuan akhir, melainkan instrumen untuk mengembalikan fungsi sekolah sebagai ruang yang memungkinkan anak hadir sepenuhnya dalam proses belajar.

Tentu saja, kebijakan tersebut tidak akan menyelesaikan seluruh persoalan. Anak menghabiskan lebih banyak waktu di rumah ketimbang di sekolah. Karena itu, tanggung jawab membangun budaya digital yang sehat tidak mungkin dibebankan kepada sekolah semata. Dalam konsep Catur Pusat Pendidikan, keluarga, sekolah, masyarakat, dan media memiliki peran yang saling melengkapi dalam membentuk karakter anak. Media, sebagai bagian dari ekosistem digital, juga memikul tanggung jawab untuk menghadirkan ruang digital yang sehat, aman, dan mendukung tumbuh kembang generasi muda. Tanpa dukungan ekosistem tersebut, pembatasan gawai hanya akan menjadi aturan administratif yang sulit mencapai tujuan.

Di sisi lain, SE Mendikdasmen juga tidak boleh dimaknai sebagai penolakan terhadap transformasi digital. Pendidikan masa depan justru menuntut peserta didik memiliki kompetensi digital yang tinggi. Namun, kompetensi digital tidak identik dengan penggunaan gawai tanpa batas. Sebaliknya, ia menuntut kemampuan mengendalikan teknologi secara sadar, memahami kapan teknologi menjadi alat belajar yang efektif dan kapan ia justru berubah menjadi sumber distraksi.

Pada akhirnya, yang sedang dipertaruhkan bukanlah boleh atau tidaknya anak membawa gawai ke sekolah. Yang sedang dipulihkan ialah ruang belajar sebagai ruang bertumbuh—ruang tempat anak belajar memberi perhatian, membangun empati, berdialog, berkolaborasi, dan menemukan dirinya sebagai manusia. Di tengah dunia yang setiap detiknya diperebutkan oleh notifikasi dan algoritma, pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan anak menguasai teknologi. Pendidikan juga harus memastikan teknologi tidak menggerus jiwa dan ruang tumbuh mereka. Di situlah makna terdalam SE Pembatasan Gawai di Sekolah: memulihkan ruang belajar agar anak dapat bertumbuh secara utuh sebagai manusia.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |