REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ombak di Teluk Persia sore itu tampak tenang. Tapi siapa pun yang tinggal di pesisir selatan Iran tahu, ketenangan adalah topeng yang mudah terkoyak. Di atas kapal-kapal niaga yang melintas perairan itu, para nahkoda memejamkan mata lebih lama saat berlayar mendekati Selat Hormuz, celah sempit selebar 39 kilometer yang menjadi nadi energi dunia.
Sejak akhir Februari lalu, selat yang membelah Iran dan Oman ini bukan lagi sekadar jalur biru yang dilalui ribuan kapal tanker. Ia berubah menjadi garis depan. Garis antara perang dan damai. Antara kebutuhan energi dunia dan ambisi geopolitik. Antara hidup dan mati ribuan orang.
Pada 28 Februari, langit Tehran mendadak meraung. Pesawat-pesawat tempur Israel dan Amerika Serikat menjatuhkan bom-bom mereka ke sejumlah target di jantung Republik Islam Iran. Dalam hitungan jam, laporan korban berjatuhan. Bukan hanya pejabat militer yang menjadi sasaran, tapi juga anak-anak. 175 siswi Sekolah Dasar Khusus Putri Shajareh Tayyebeh di Kota Minab, Provinsi Hormozgan, tewas dalam serangan itu. 95 lainnya luka-luka. Serangan itu menyisakan duka yang takkan sembuh dalam satu generasi.
Iran membalas. Rudal-rudal menghujani wilayah Israel dan pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah. Namun balasan paling strategis Teheran adalah keputusan yang mengguncang pasar energi dunia: mereka secara efektif menutup Selat Hormuz. Bukan untuk semua orang, seperti yang kemudian berulang kali ditekankan para pejabat Iran, tapi untuk "Amerika, Israel, dan sekutu-sekutu mereka."
Sejak saat itu, dunia terbelah.
Minyak yang Terjebak di Tengah Perang
Pernahkah Anda membayangkan bagaimana rasanya jika satu dari setiap lima tetes minyak yang menggerakkan kendaraan dan pabrik di dunia tiba-tiba mengering? Itulah skenario yang kini membayangi pasar global.
Selat Hormuz adalah urat nadi energi dunia. Sekitar 20 persen perdagangan global minyak, produk minyak bumi, dan gas alam cair harus melewati perairan sempit ini setiap harinya. Ketika Iran menutup selat itu, atau setidaknya membuatnya sangat berisiko untuk dilalui, harga minyak dan pupuk dunia melambung. Negara-negara miskin yang bergantung pada impor pangan mulai gelisah. Rantai pasok global yang baru pulih dari pandemi, lagi-lagi terancam patah.
Di atas Air Force One, dalam perjalanan kembali ke Washington, Presiden Donald Trump berbicara kepada wartawan. Ia menyebut operasi pengamanan selat itu dengan nama dramatis: "Epic Fury". Tujuh negara sedang diajak bicara, katanya. China disebut secara khusus, negeri panda itu disebutnya mendapat 90 persen minyak mentah impornya dari jalur ini.
"Mereka mendapatkan minyak mereka, sangat banyak, sekitar 90 persen, dari selat itu. Jadi saya ajak, 'maukah kalian bergabung?'. Kita akan tahu nanti. Mungkin mereka mau, mungkin juga tidak," kata Trump.
Sehari sebelumnya, ia menulis di Truth Social, media sosial yang menjadi corong utamanya, menyerukan China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris untuk mengirim kapal perang ke Selat Hormuz. Sebuah ajakan yang terdengar seperti perintah.
sumber : Antara

3 hours ago
3

















































