ilustrasi(Magnific)
KEBIASAAN mengonsumsi makanan dan minuman manis kerap diidentikkan dengan risiko diabetes dan obesitas. Namun, studi epidemiologi terbaru mengungkapkan bahaya lain yang mengintai kesehatan otak jangka panjang.
Dikutip dari Eating Well, asupan gula tambahan yang berlebihan pada usia paruh baya terbukti meningkatkan risiko pikun atau demensia hingga 43 persen.
Studi yang dianalisis dari data UK Biobank melibatkan lebih dari 158.000 peserta dengan rata-rata usia 56 tahun selama rentang pemantauan satu dekade. Para peneliti menelusuri korelasi antara pola makan harian, susunan genetik, dan catatan medis nasional terkait penurunan fungsi kognitif.
Temuan utama penelitian menyoroti dua faktor kritis yang saling memperkuat dalam memicu gangguan kesehatan otak:
Efek Gula Tambahan (Added Sugar): Kelompok peserta yang mengonsumsi gula tambahan paling tinggi (seperti pada minuman bersoda, permen, dan kue manis) memiliki risiko terdiagnosis demensia 43% lebih tinggi dibanding kelompok dengan konsumsi terendah.
Pengaruh Genetik dan Mikrobioma Usus: Variasi genetik yang memengaruhi keseimbangan bakteri usus—seperti kadar Ruminococcaceae UCG-014 yang rendah atau Oscillospira yang tinggi—membuat individu tertentu menjadi jauh lebih rentan terhadap efek buruk gula pada jaringan otak.
Gula Alami vs Gula Tambahan: Penelitian mencatat bahwa gula alami pada buah dan olahan susu juga menunjukkan korelasi risiko, namun dampaknya jauh lebih kecil dibandingkan gula tambahan.
Mencegah Penurunan Kognitif Sejak Usia 50-an
Meskipun gejala demensia umumnya baru terdeteksi pada usia di atas 65 tahun, kerusakan biologis pada sel otak sebenarnya telah dimulai beberapa dekade sebelumnya. Pakar kesehatan menekankan bahwa pola makan di usia paruh baya (midlife) memegang peranan krusial sebagai fondasi kesehatan kognitif masa depan.
Guna menekan risiko penurunan fungsi otak, masyarakat diimbau untuk membatasi konsumsi gula tambahan dan mengganti camilan olahan dengan buah-buahan segar yang kaya akan serat serta antioksidan. Mengontrol faktor risiko yang dapat diubah seperti asupan makanan harian menjadi langkah proaktif paling efektif dalam menjaga ketajaman ingatan seiring bertambahnya usia.
(P-4)


















































