Setelah Gagal Panen, Petani Timun di Subang Lebih Menderita karena Harga Jual Anjlok

3 weeks ago 4
Setelah Gagal Panen, Petani Timun  di Subang Lebih Menderita karena Harga Jual Anjlok Petani Timun di Subang mengalami gagal panen akibat musim kemarau. Harga jual timun ikut anjlok.(MI/REZA SUNARYA)

PARA petani di Kampung Ciistal, Desa Cimayasi, Kecamatan Cipeundeuy Kabupaten Subang, Jawa Barat, sudah jatuh tertimpa tangga. Setelah mengalami gagal panen akibat musim kemarau, harga jual hasil pertanian juga anjlok, sehingga para petani mengalami kerugian hingga dua kali

Kasna, seorang petani Timun, menyebutkan harga jual Ketimun hasil panen saat ini turun ke kisaran Rp5.000 hingga Rp6.000 per kilogram. Padahal sebelumnya, harga sempat berada di angka Rp8.000 per kilogram, bahkan pernah menyentuh harga tertinggi hingga Rp13.000 per kilogram.

Selain permasalahan harga jual yang kian menurun, faktor cuaca ekstrem pada musim kemarau turut memengaruhi produktivitas pertanian. Minimnya pasokan air dan suhu udara yang panas menyebabkan tanaman lebih cepat kering.

Dia menjelaskan bahwa untuk modal tanam sekitar tiga amplop benih, hasil panen total yang didapat saat ini hanya mencapai sekitar 800 kilogram. Angka tersebut jauh di bawah potensi normal saat cuaca

"Kalau cuacanya bagus, dari tiga amplop benih itu biasanya bisa menghasilkan lebih dari 1 ton. Sekarang ada penurunan produksi karena masalah air dan udara panas yang bikin daun cepat kering," tandasnya, Senin (31/8).

Selain kekeringan dan anjloknya harga, kini tanaman timun juga mulai terserang hama, seperti gangguan ulat dan penyakit cacar daun, sehingga jumlah kerugian para petani semakin besar.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |