ilustrasi(Magnific)
ANCAMAN penyakit akibat gigitan nyamuk kembali menjadi sorotan medis setelah seorang siswa kelas 6 SD di Ohio, Amerika Serikat, bernama Evan, dilaporkan mengidap virus La Crosse, sebuah infeksi langka yang memicu pembengkakan otak parah (ensefalitis).
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menjelaskan bahwa La Crosse adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk terinfeksi. Virus ini tergolong "endemik di Ohio," di mana Ohio "melaporkan lebih banyak kasus pada manusia dibandingkan negara bagian lain di Amerika Serikat, dengan rata-rata sekitar 20 kasus per tahun," menurut Departemen Kesehatan Ohio.
Kronologi Gejala
Ia menceritakan bahwa gejala awal muncul saat Evan mulai masuk sekolah pada musim gugur tahun ini. Evan pulang ke rumah dengan keluhan sakit kepala yang sangat berat, diikuti penurunan kondisi tubuh secara drastis setiap harinya.
"Dia demam tinggi. Bicaranya sangat pelo/cadel. Dia terdengar seperti seseorang yang terkena stroke. Seberapa parah cara bicaranya saat itu," kata ibu dari korban, Summer Rose, kepada WBNS-TV.
Penyakit misterius tersebut kemudian memicu serangan kejang secara tiba-tiba. Kondisi ini membuat Summer harus membawa putranya berobat ke rumah sakit sebanyak lima kali dalam kurun waktu tiga minggu.
Sebelum diagnosis pasti ditegakkan, Evan sempat terdiagnosis keliru mengalami radang tenggorokan (laryngitis) dan diberikan beberapa kali terapi antibiotik tanpa hasil. Kepastian infeksi baru terungkap setelah tim medis melakukan prosedur pemeriksaan cairan otak (spinal tap).
Evan kini harus menjalani terapi bicara intensif dengan estimasi durasi pemulihan berkisar antara enam bulan, satu tahun, atau bahkan lebih lama.
"Saya tidak pernah mengira nyamuk dapat menyebabkan sesuatu yang sangat mengerikan untuk disaksikan. Virus ini menyebabkan ensefalitis atau pembengkakan pada otaknya. Ini sangat menguras emosi," tutur Summer.
Upaya Pencegahan dan Imbauan Medis
Otoritas kesehatan masyarakat dan CDC menegaskan bahwa hingga saat ini belum tersedia vaksin khusus maupun obat antivirus spesifik untuk mengobati virus La Crosse. Oleh karena itu, tindakan pencegahan utama berfokus pada menghindari gigitan nyamuk melalui penggunaan reppelent, menjaga kebersihan lingkungan dari genangan air, serta mengenakan pakaian tertutup saat beraktivitas di luar ruangan.


















































