Studi: Jumlah Asupan Gula saat Usia di Bawah 2 Tahun Berdampak pada Kesehatan Jangka Panjang

3 weeks ago 31
 Jumlah Asupan Gula saat Usia di Bawah 2 Tahun Berdampak pada Kesehatan Jangka Panjang Ilustrasi, seorang bayi mengonsumsi makanan tinggi gula.(Dok. Magnific)

APAKAH asupan gula yang Anda konsumsi sebelum ulang tahun kedua dapat menentukan kondisi kesehatan Anda puluhan tahun kemudian, bahkan hingga usia 70-an? Sebuah studi terbaru yang memanfaatkan data historis unik menunjukkan bahwa jawabannya adalah ya.

Penelitian ini mengungkapkan bahwa individu yang terpapar lebih sedikit gula selama beberapa tahun pertama kehidupan mereka memiliki kemungkinan yang jauh lebih rendah untuk terkena berbagai jenis kanker di masa tua. Selain itu, mereka juga menunjukkan tanda-tanda penuaan biologis yang lebih lambat dibandingkan mereka yang mengonsumsi lebih banyak gula di masa balita.

Eksperimen Alami dari Masa Penjatahan Gula

Mempelajari dampak jangka panjang nutrisi pada manusia secara langsung sangatlah sulit karena peneliti tidak mungkin melakukan eksperimen terkontrol pada bayi selama 70 tahun. Namun, kebijakan penjatahan gula di Inggris pasca-Perang Dunia II memberikan "eksperimen alami" yang langka.

Penjatahan gula di Inggris berakhir pada September 1953, yang memicu lonjakan konsumsi gula hingga hampir dua kali lipat. Hal ini menciptakan perbedaan kontras antara anak-anak yang lahir hanya terpaut beberapa bulan; sebagian menghabiskan masa awal kehidupan mereka dengan asupan gula terbatas, sementara sebagian lainnya terpapar gula tinggi sejak dalam kandungan dan masa kanak-kanak.

Para peneliti menganalisis data dari lebih dari 64.000 orang yang lahir di Inggris antara tahun 1951 dan 1956 menggunakan UK Biobank. Fokus utama penelitian adalah pada 1.000 hari pertama kehidupan—periode kritis dari pembuahan hingga usia dua tahun saat organ, metabolisme, dan sistem kekebalan tubuh sedang berkembang pesat.

Penurunan Risiko Kanker dan Penuaan yang Lebih Lambat

Hasil studi menunjukkan bahwa mereka yang mengalami masa penjatahan gula lebih lama selama 1.000 hari pertama memiliki insiden yang lebih rendah pada lima jenis kanker: payudara, prostat, hati, rektal, dan paru-paru. Efek paling signifikan terlihat pada kanker hati, dengan tingkat risiko sekitar 69% lebih rendah, sementara risiko kanker payudara turun sebesar 36%.

Selain risiko kanker, penelitian ini juga menyoroti aspek penuaan biologis melalui pengukuran panjang telomere—struktur pelindung di ujung kromosom yang memendek seiring bertambahnya usia sel. Temuan utama meliputi:

  • Telomere Lebih Panjang: Individu dengan paparan gula rendah di masa kecil memiliki telomere yang lebih panjang, setara dengan perlambatan penuaan biologis sekitar 2,2 tahun.
  • Kadar Granzyme B Rendah: Ditemukan kadar protein granzyme B yang lebih rendah, yang merupakan indikator bahwa sistem kekebalan tubuh tidak bekerja terlalu keras secara kronis.

Efek Perilaku: Kebiasaan yang Bertahan 50 Tahun

Hal yang paling mengejutkan dari studi ini adalah bagaimana paparan gula di awal kehidupan membentuk preferensi rasa hingga dewasa. Pada usia sekitar 50 tahun, mereka yang mengalami penjatahan gula di masa kecil terbukti masih mengonsumsi lebih sedikit gula dan memiliki pola makan yang lebih sehat serta beragam.

Ada dua mekanisme yang diduga bekerja secara bersamaan. Pertama adalah mekanisme biologis, di mana nutrisi awal membentuk perkembangan organ dan metabolisme. Kedua adalah mekanisme perilaku, di mana selera terhadap rasa manis yang terbentuk sejak dini cenderung menetap hingga puluhan tahun kemudian.

Studi serupa juga menemukan bahwa pembatasan gula di awal kehidupan berkaitan dengan penurunan risiko diabetes tipe 2, hipertensi, demensia, Alzheimer, serta penyakit jantung dan stroke di masa tua.

Temuan ini tidak berarti anak-anak dilarang total mengonsumsi gula, namun menekankan bahwa perbedaan kecil dalam asupan gula selama periode kritis perkembangan 1000 hari pertama kehidupan dapat meninggalkan jejak permanen pada kesehatan seseorang hingga setengah abad kemudian. (Sciece Daily/H-3)ab

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |