Studi: Ukuran Lingkar Pinggang Lebih Akurat Deteksi Risiko Kesehatan Dibanding BMI

3 weeks ago 32
 Ukuran Lingkar Pinggang Lebih Akurat Deteksi Risiko Kesehatan Dibanding BMI Ilustrasi pengukuran lingkar pinggang.(Dok. Magnific)

PENGUKURAN sederhana pada lingkar pinggang ternyata hampir sama efektifnya dengan metode rumit lainnya dalam mendeteksi tingkat lemak tubuh yang tidak sehat. Penelitian terbaru dari Rutgers Health menunjukkan bahwa indeks massa tubuh (BMI) saja sering kali gagal mengidentifikasi banyak orang dengan obesitas, sehingga ukuran pinggang bisa menjadi tanda peringatan dini yang krusial.

Studi yang diterbitkan dalam JAMA Network Open ini menemukan bahwa mengukur lingkar pinggang, baik dilakukan sendiri maupun dikombinasikan dengan BMI, memiliki efektivitas yang setara dengan pendekatan baru yang lebih kompleks yang mengandalkan berbagai pengukuran tubuh berbeda.

Hasil ini menunjukkan bahwa pengecekan lingkar pinggang memberikan cara praktis bagi dokter dan pasien untuk mengidentifikasi tingkat lemak tubuh yang berpotensi tidak sehat dan mengenali masalah kesehatan terkait lebih awal.

Peringatan Dini dari Lingkar Pinggang

"Perhatikan kebutuhan untuk melonggarkan ikat pinggang atau membeli celana yang lebih besar," ujar Aayush Visaria, anggota fakultas di Rutgers Health-RWJBarnabas Health Center for Climate, Health, and Healthcare sekaligus penulis utama studi tersebut.

Menurut Visaria, meskipun ukuran pakaian tidak sama dengan pengukuran lingkar pinggang yang tepat, hal itu bisa menjadi tanda awal adanya jumlah lemak tubuh yang tidak sehat. Mengukur pinggang bersamaan dengan berat badan dapat membantu mengidentifikasi risiko kesehatan lebih dini, memberikan kesempatan untuk mengurangi risiko diabetes, penyakit jantung, stroke, hingga beberapa jenis kanker.

Untuk menyelidiki efektivitas berbagai metode skrining obesitas, para peneliti Rutgers Health menganalisis informasi dari 1.900 orang dewasa di Amerika Serikat berusia antara 20 hingga 59 tahun yang berpartisipasi dalam National Health and Nutrition Examination Survey. Mereka membandingkan beberapa cara mengidentifikasi obesitas dengan metode penentuan lemak tubuh yang sangat akurat.

Menguji Metode yang Lebih Sederhana

Salah satu metode yang dievaluasi adalah kerangka kerja obesitas yang baru-baru ini diusulkan oleh kelompok ahli independen multidisiplin. Pendekatan tersebut menggabungkan BMI, lingkar pinggang, rasio pinggang-terhadap-tinggi badan, dan rasio pinggang-terhadap-pinggul.

Meskipun kerangka kerja baru tersebut mengidentifikasi jumlah orang dengan kelebihan lemak tubuh yang lebih banyak, tim Rutgers menemukan bahwa metode yang jauh lebih sederhana menghasilkan tingkat akurasi yang serupa. Penggunaan BMI atau lingkar pinggang saja memberikan keseimbangan yang lebih baik antara mengidentifikasi orang dengan obesitas secara tepat dan menghindari diagnosis positif palsu.

Kesederhanaan ini sangat penting dalam praktik medis sehari-hari. Lingkar pinggul, yang diperlukan untuk salah satu pengukuran dalam kerangka kerja yang diusulkan, jarang dicatat selama kunjungan klinis rutin. Sebaliknya, lingkar pinggang jauh lebih mudah diukur dan semakin banyak dimasukkan dalam pedoman klinis.

Keterbatasan BMI

"Temuan kami menunjukkan bahwa Anda tidak selalu memerlukan beberapa pengukuran kompleks untuk mengidentifikasi risiko kesehatan terkait obesitas," kata Visaria. "Pengukuran pinggang memberikan banyak informasi yang dibutuhkan dan layak dilakukan baik oleh klinisi maupun pasien."

Hasil studi juga menyoroti keterbatasan signifikan dari BMI. Ketika BMI digunakan sendirian, metode ini gagal mengidentifikasi sejumlah besar orang yang sebenarnya memenuhi kriteria lemak tubuh untuk obesitas. Hal ini memperkuat kekhawatiran lama mengenai ketergantungan hanya pada BMI, yang tidak sepenuhnya mencerminkan perbedaan komposisi tubuh atau menunjukkan di mana lemak disimpan dalam tubuh.

Lokasi akumulasi lemak tubuh sangat penting bagi kesehatan. Inilah alasan mengapa lingkar pinggang dapat memberikan informasi yang tidak ditangkap oleh BMI saja. Para peneliti berharap penggunaan ukuran pinggang secara lebih luas dapat membuat skrining obesitas menjadi lebih praktis sekaligus tetap mampu mengidentifikasi individu yang menghadapi risiko kesehatan tinggi.

Penelitian ini turut disusun oleh Soko Setoguchi, Ethan Halm, Douglas Corsi, Dylon Patel, Keerthana Kesavarapu, dan Jeffrey Carson dari berbagai departemen di Rutgers University. (Science Daily/H-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |