Pemilik Dago Dairy Mark dan Yanti, serta Bhabinkamtibmas Desa Mekarwangi, Bripka Taufan Rizki memberikan klarifikasi terkait penutupan usaha peternakan.(MI/DEPI GUNAWAN)
BEREDAR sebuah video di media sosial yang menampilkan pemilik peternakan sapi Dago Dairy di Desa Mekarwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, yang berencana menutup usaha peternakan sapi perahnya.
Dalam unggahan tersebut, pemilik Dago Dairy yang bernama Mark beserta istrinya, Yanti menyampaikan asalan penutupan peternakan karena mengalami kekurangan tenaga kerja selama hampir dua tahun.
Kondisi tersebut semakin sulit karena minimnya minat anak muda untuk bekerja di sektor peternakan, khususnya sapi perah.
Akibat keterbatasan tenaga kerja, salah satu pekerja bahkan harus bekerja dalam dua shift. Kondisi ini membuat Mark mengaku kesulitan membagi waktu untuk merawat sapi maupun melakukan perbaikan kandang.
"Mark harus bekerja dua shift. Saya tidak ada waktu untuk merawat sapi dengan baik atau memperbaiki kandang," kata Mark dan Yanti dalam video tersebut.
Pasangan suami istri itu tidak bisa meneruskan usaha ke anaknya yang saat ini tinggal di Australia. Meski mencintai Indonesia, mereka tidak ingin melanjutkan usaha peternakan keluarga.
"Kedua putra kami tinggal di Australia. Mereka mencintai Indonesia, tetapi tidak ingin melanjutkan peternakan," ucapnya.
Di akhir video, pemilik Dago Dairy menyampaikan terima kasih kepada para pekerja dan seluruh pihak yang selama ini telah memberikan dukungan.
Dalam video lainnya yang disebar Bhabinkamtibmas Desa Mekarwangi, Bripka Taufan Rizki, Mark dan Yanti mengklarifikasi terkait keputusan mereka menutup usaha peternakan yang viral di media sosial.
Dalam klarifikasinya, mereka menegaskan bahwa penutupan peternakan tidak berkaitan dengan adanya persoalan atau konflik dengan pekerja lokal.
Menurut Mark, salah satu alasan utama Dago Dairy tutup adalah kesulitan mendapatkan pekerja. Kondisi tersebut bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga nyaris terjadi di seluruh negara.
"Kenapa kami tutup? Ada dua alasan. Yang pertama, kami sedikit mengalami masalah untuk mendapatkan pekerja tetap. Ini masalah di seluruh dunia, Australia ada masalah ini, Eropa juga ada masalah ini," katanya.
TIDAK BERMASALAH DENGAN WARGA
Dia menjelaskan, saat ini sangat sulit mengajak anak muda untuk bekerja di sektor peternakan. Ia membantah anggapan bahwa penutupan Dago Dairy disebabkan adanya masalah dengan masyarakat atau pekerja lokal.
"Biasanya anak muda tidak mau bekerja di peternakan. Ini sama sekali tidak ada masalah dengan penduduk lokal. Pekerja kami lokal. Saya tidak pernah bilang itu," tegasnya.
Sementara itu, Yanti mengaku jika ia dan suaminya ingin pensiun dan beristirahat dari peternakan. Yanti juga mengucapkan terima kasih atas perhatian masyarakat kepada Dago Dairy.
Bhabinkamtibmas Desa Mekarwangi, Bripka Taufan Rizki menyebut, klarifikasi tersebut disampaikan setelah sebelumnya muncul berbagai spekulasi di media sosial terkait alasan Dago Dairy menghentikan operasionalnya.
Taufan berharap masyarakat tidak menarik kesimpulan sendiri maupun mengaitkan penutupan peternakan dengan konflik bersama pekerja lokal.
"Alhamdulillah, kita sudah melakukan klarifikasi bahwa ibu memang ingin pensiun dan beristirahat. Jadi, untuk informasi yang berkembang di media sosial, kami berharap netizen bisa memahami, tidak berspekulasi macam-macam, Mark dan ibu Yanti ingin beristirahat, menjalani kehidupan dengan tenang dan damai," tandasnya.


















































