Swasembada Garam dan Produksi Tambak Udang Digenjot, Ekonomi makin Tumbuh

3 days ago 2
Swasembada Garam dan Produksi Tambak Udang Digenjot, Ekonomi makin Tumbuh Upaya petani garam Demak jaga stabilitas harga: Petani memanen garam saat panen raya di area tambak garam rakyat Desa Kedungmutih, Wedung, Demak, Jawa Tengah, Rabu (5/8/2026).(Antara)

MENTERI Kelautan dan Perikanan (MKP) Sakti Wahyu Trenggono mendorong penguatan sektor kelautan dan perikanan melalui sejumlah program prioritas, mulai dari swasembada garam nasional, pengembangan kawasan tambak udang terintegrasi, hingga revitalisasi tambak Pantura. 

Menurutnya, swasembada garam menjadi penting karena Indonesia merupakan negara kepulauan dengan sumber daya kelautan yang besar, tetapi masih bergantung pada impor garam dalam jumlah tinggi. Setiap tahun, kebutuhan garam nasional mencapai sekitar 5 juta ton, sementara produksi dalam negeri baru sekitar 2 juta ton.

“Indonesia harus mampu memenuhi kebutuhan garamnya sendiri,” kata Trenggono dalam wawancara dengan Media Indonesia di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Rabu (12/8).

Selama ini, Indonesia masih mengimpor sekitar 2 juta-3 juta ton garam untuk memenuhi kebutuhan nasional. Pemerintah ingin ketergantungan tersebut dikurangi dengan meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri.

Salah satu langkah yang ditempuh dengan membangun Sentra Industri Garam National (K-SIGN) di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Trenggono mengatakan wilayah tersebut memiliki karakter perairan yang dinilai serupa dengan kawasan produksi garam di Broome, Australia, yang selama ini mampu menghasilkan garam dalam jumlah besar.

Pada tahap pertama, pemerintah mengembangkan sekitar 2.000 hektare lahan di Rote Ndao dengan potensi produksi sekitar 400 ribu ton garam per tahun. Secara keseluruhan, kawasan tersebut memiliki potensi pengembangan hingga sekitar 12 ribu hektare yang diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 2 juta ton garam. Pengembangan kawasan tersebut juga melibatkan masyarakat. 

Namun, pemerintah menyadari produksi garam masyarakat belum seluruhnya mampu memenuhi kebutuhan industri. Garam untuk industri pangan, farmasi, dan sektor lainnya membutuhkan standar kualitas serta treatment tertentu. Karena itu, model produksi di Rote diarahkan untuk menghasilkan garam yang memenuhi kebutuhan industri.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Garam, Abraham Mose, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan KKP kepada PT Garam sebagai mitra strategis dalam pengelolaan K-SIGN. Menurutnya, sinergi antara pemerintah dan BUMN menjadi kunci untuk menghadirkan industri garam nasional yang semakin kompetitif dan berdaya saing.

Selain garam, pemerintah mendorong pengembangan tambak udang terintegrasi untuk meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global. Indonesia saat ini merupakan eksportir udang terbesar keempat dunia dengan nilai ekspor hampir US$2 miliar per tahun.

Untuk itu, KKP terlebih dahulu membangun model tambak udang modern di Kebumen, Jawa Tengah, dengan luas sekitar 60 hektare. Kawasan tersebut menggunakan teknologi yang lebih modern, didukung sumber input air yang memadai dan sesuai dengan standar industri.

Produktivitas yang ditargetkan melalui model tersebut mencapai sekitar 40 ton per hektare. Sementara itu, tambak di Kebumen telah mampu menuju produksi sekitar 30 ton per hektare. (E-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |