Tak Merasa Sakit tapi Positif TB, Kenali Infeksi TB Laten 

3 weeks ago 29
Tak Merasa Sakit tapi Positif TB, Kenali Infeksi TB Laten  Ilustrasi(Magnific)

BATUK berdahak, demam, penurunan berat badan, hingga tubuh terasa lemas merupakan deretan gejala umum tuberkulosis (TB) ketika penyakit tersebut sudah aktif. TB aktif diketahui menyerang paru-paru dan menular melalui udara. Namun, tidak semua orang yang terinfeksi bakteri tuberkulosis langsung menunjukkan gejala-gejala tersebut.

Dalam kondisi yang dikenal sebagai TB laten atau TB tidak aktif, bakteri tuberkulosis tetap berada di dalam tubuh, tetapi belum aktif berkembang. Alhasil, penderitanya tidak merasa sakit, tidak mengalami gejala, dan tidak dapat menularkan bakteri kepada orang lain.

Meski tidak menimbulkan gejala, kuman TB dapat bertahan di dalam tubuh selama bertahun-tahun. Jika tidak ditangani, TB laten berpotensi berkembang menjadi penyakit TB aktif saat kuman kembali aktif.

Diagnosis dan Pentingnya Pengobatan

Infeksi TB dapat diketahui melalui tes kulit atau tes darah khusus TB. Hasil positif menandakan adanya kuman TB di dalam tubuh. Namun, untuk memastikan apakah infeksi masih bersifat laten atau sudah menjadi TB aktif, diperlukan pemeriksaan lanjutan seperti rontgen dada dan pemeriksaan dahak jika diperlukan.

Setelah dikonfirmasi tidak mengalami TB aktif, pengobatan TB laten perlu segera dilakukan. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), pengobatan ini bertujuan membunuh kuman TB yang mengendap di dalam tubuh sehingga risiko menjadi TB aktif dapat dikurangi.

Pilihan Regimen Pengobatan

Durasi pengobatan TB laten bervariasi, mulai dari tiga, empat, enam, hingga sembilan bulan, tergantung pada obat yang diberikan seperti isoniazid, rifampin, atau rifapentine.

CDC lebih memprioritaskan regimen pengobatan jangka pendek (3-4 bulan) karena dinilai lebih singkat dan cenderung lebih mudah diselesaikan oleh pasien. Pilihan terapi yang umum digunakan antara lain:

  • 3HP: Kombinasi isoniazid dan rifapentine yang diminum seminggu sekali selama 3 bulan.
  • 4R: Pengobatan dengan rifampin yang diminum setiap hari selama 4 bulan.
  • 3HR: Kombinasi isoniazid dan rifampin yang diminum setiap hari selama 3 bulan.

Selain regimen jangka pendek, terdapat pula pilihan pengobatan tunggal isoniazid yang dikonsumsi setiap hari selama enam atau sembilan bulan.

Meski merasa sehat, pasien yang menjalani terapi TB laten diimbau untuk disiplin mengonsumsi dan menyelesaikan obat sesuai anjuran tenaga kesehatan. Pengobatan yang terputus atau tidak selesai dapat mengurangi efektivitas perlindungan tubuh dari risiko TB aktif di masa mendatang. (Centers for Disease Control and Prevention (CDC)/Z-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |