Terseret Skandal Plagiarisme, Profesor Termuda Cambridge Jason Arday Mengundurkan Diri

4 hours ago 4
Terseret Skandal Plagiarisme, Profesor Termuda Cambridge Jason Arday Mengundurkan Diri Profesor Jason Arday resmi mengundurkan diri dari University of Cambridge usai dituduh melakukan plagiarisme dan pemalsuan kualifikasi akademik. Simak detailnya.(Media Sosial X)

PROFESOR Jason Arday, akademisi University of Cambridge yang berada di pusat kontroversi dugaan plagiarisme, mengundurkan diri dari jabatannya "dengan efek segera". Sosok sosiolog yang tahun 2023 menjadi profesor berkulit hitam termuda dalam sejarah Cambridge tersebut menyatakan harus melangkah mundur demi mengakhiri gejolak yang terjadi.

Pengunduran diri ini disampaikan setelah Cambridge meluncurkan penyelidikan atas "informasi baru" mengenai kualifikasi akademik serta penunjukan kehormatan Arday.

Dalam pernyataan tertulisnya pada Rabu, Arday mengungkapkan diangkat menjadi profesor adalah kebanggaan profesional terbesar dalam hidupnya. Namun, ia merasa tekanan publik yang dihadapi sudah terlalu berat.

"Tahun-tahun sejak penunjukan saya ditandai oleh tingkat pengawasan publik dan serangan pribadi yang tak henti-hentinya," ujar Arday. Ia menambahkan bahwa "ada titik di mana biaya pribadi menjadi terlalu besar."

Arday menegaskan bahwa pengunduran dirinya bukan bentuk pengakuan atas tuduhan yang beredar. "Demi kesejahteraan saya sendiri, keluarga saya, dan mereka yang telah berdiri di samping saya selama periode sulit ini, saya menyimpulkan bahwa satu-satunya cara untuk mengakhiri bab ini adalah dengan melangkah mundur," tegasnya.

Tuduhan plagiarisme ini pertama kali dilontarkan oleh Nathan Cofnas, mantan peneliti Cambridge. Cofnas mengklaim telah memeriksa karya Arday menggunakan perangkat pemindai plagiarisme dan menemukan banyak bagian tulisan yang disalin dengan suntingan minimal dari sumber asli.

Selain tuduhan plagiarisme, tuduhan juga mengarah pada klaim pencapaian pribadi Arday, seperti aksi lari maraton untuk penggalangan dana. Mengenai kesalahan dalam karya tulisnya, Arday mengakui adanya kekeliruan tersebut tetapi membantah bahwa dirinya adalah pembohong.

"Sejak saya tiba di Cambridge, telah ada kampanye yang sangat terorganisir dan terkoordinasi untuk menjatuhkan saya dari posisi saya," kata Arday dalam wawancaranya dengan The Times. Ia menilai tuduhan tersebut bermotif rasial serta dipicu oleh penolakan terhadap kebijakan keanekaragaman, kesetaraan, dan inklusi (DEI).

Arday menjelaskan bahwa beberapa kesalahan pada awal karier akademiknya dipengaruhi oleh kondisi autisme yang diidapnya, di mana ia mengandalkan metode peniruan untuk memahami informasi.

Pihak University of Cambridge menyatakan akan tetap melanjutkan penanganan aduan terkait dugaan pelanggaran akademik sesuai prosedur yang berlaku, sembari memberikan dukungan kepada Arday selama proses berlangsung. (BBC/Z-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |