Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).(Dok. Antara)
LAPORAN Pertanggungjawaban (LPJ) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masa Khidmat 2022–2027 diterima secara bulat dan aklamasi oleh seluruh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) se-Indonesia. Keputusan tanpa catatan tunggal tersebut ditetapkan dalam sidang pleno Muktamar ke-35 NU yang berlangsung di Pesantren Tambakberas, Jombang, Minggu (30/8/2026).
Dokumen LPJ setebal hampir 1.000 halaman tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) bersama Wakil Ketua Umum PBNU KH Amin Said Husni. Para Muktamirin memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas fondasi kokoh yang berhasil dibangun selama lima tahun terakhir.
Dalam pemaparannya, Gus Yahya menegaskan bahwa kepemimpinan abad kedua NU memerlukan kesinambungan serta lompatan kapasitas tata kelola jam'iyah. "NU ini sudah sangat besar, tetapi tantangan utamanya adalah bagaimana kita memperbesar kapasitas NU di tengah dunia yang terus berubah. Intinya bukan memperbesar NU, melainkan membuat kebesaran NU semakin mampu bekerja," tegas Gus Yahya.
Kesinambungan dan transformasi tersebut diterjemahkan melalui tiga agenda strategis yang menjadi legacy utama kepemimpinan PBNU periode ini:
1. Transformasi Organisasi dan Tata Kelola Digital
Gus Yahya menekankan pentingnya mengubah kebesaran sosial warga Nahdliyyin menjadi kapasitas kelembagaan yang bekerja secara terukur. Langkah konkret ini diwujudkan melalui digitalisasi tata kelola yang dikenal dengan Digdaya NU, penataan sistem persuratan, hingga akuntabilitas pengelolaan aset organisasi. Selain itu, penguatan SDM dilakukan melalui kaderisasi terstruktur berbasis akademi melalui AKN NU.
2. Reposisi Politik dan Otonomi Moral
Legacy kedua berkaitan dengan menjaga Khittah Nahdliyyah dan menegaskan orientasi politik kebangsaan. Di bawah kepemimpinan Gus Yahya, PBNU menggeser fokus dari sekadar politik mobilisasi elektoral jangka pendek menuju pengawalan nilai-nilai keadilan dan kemaslahatan jangka panjang. NU diposisikan sebagai mitra kritis-konstruktif bagi negara dengan tetap menjaga independensi dan otonomi moral organisasi.
3. Aktivasi Peran Internasional yang Nyata
PBNU berhasil mengubah kehadiran global yang semula bersifat simbolis menjadi kontribusi nyata. Melalui gagasan Fikih Peradaban dan forum diplomasi antaragama Religion of Twenty (R20), NU mengangkat khazanah keilmuan pesantren ke panggung dunia. Upaya ini bertujuan menjawab krisis kemanusiaan, perdamaian, dan tata kehidupan majemuk di level internasional.
Penerimaan LPJ secara mulus ini membuktikan kuatnya konsolidasi internal serta besarnya kepercayaan PWNU dan PCNU se-Indonesia terhadap kepemimpinan Gus Yahya. Fondasi sistem, kaderisasi, dan tata kelola yang telah diletakkan dipastikan menjadi pijakan kokoh bagi keberlanjutan khidmah Nahdlatul Ulama di masa depan. (H-3)


















































