Tinggalkan Jejak pada Sel Imun, Orang yang Pernah Obesitas Berisiko Alami Masalah Kesehatan Jangka Panjang

2 weeks ago 31
Tinggalkan Jejak pada Sel Imun, Orang yang Pernah Obesitas Berisiko Alami Masalah Kesehatan Jangka Panjang Ilustrasi obesitas.(Dok. Magnific)

OBESITAS ternyata meninggalkan jejak biologis yang bertahan lama pada sistem kekebalan tubuh, yang berpotensi menjaga risiko kesehatan tetap tinggi bahkan bertahun-tahun setelah berat badan turun. Sebuah studi selama 10 tahun yang diterbitkan dalam jurnal EMBO Reports menunjukkan bahwa orang yang pernah hidup dengan obesitas dapat mempertahankan "memori" molekuler dari kondisi tersebut dalam sel imun penting.

Tim peneliti Eropa yang dipimpin oleh Profesor Claudio Mauro dari University of Birmingham menemukan bahwa sel T pembantu (limfosit CD4+) dapat menyimpan tanda-tanda obesitas masa lalu meskipun berat badan telah berkurang secara signifikan. Temuan ini membantu menjelaskan mengapa beberapa risiko kesehatan terkait obesitas tetap ada pada individu yang telah kembali ke berat badan normal.

Jejak DNA yang Bertahan Lama

Para peneliti memfokuskan studi mereka pada proses yang disebut metilasi DNA, di mana label kimia menempel pada DNA di dalam sel imun. Temuan mereka menunjukkan bahwa perubahan epigenetik ini dapat bertahan selama 5 hingga 10 tahun setelah penurunan berat badan yang sukses.

Memori obesitas yang menetap pada sel T pembantu ini dapat mengganggu fungsi imun normal, termasuk proses pembersihan limbah seluler (autofagi) dan regulasi penuaan imun (senesens). Hal inilah yang diduga menjadi alasan mengapa mantan penderita obesitas tetap memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit metabolik dan kanker.

Untuk membangun gambaran detail, peneliti menganalisis sel imun dari empat kelompok subjek, antara lain:

  • Pasien obesitas yang menerima suntikan penurunan berat badan.
  • Pasien dengan Sindrom Alstrom (gangguan genetik langka dengan obesitas dini).
  • Peserta intervensi olahraga selama 10 minggu.
  • Pasien operasi penggantian panggul atau lutut dengan kategori berat badan normal dan obesitas.

Mengapa Risiko Kesehatan Tetap Ada?

Profesor Claudio Mauro menjelaskan bahwa penurunan berat badan jangka pendek mungkin tidak langsung mengurangi risiko kondisi penyakit seperti diabetes tipe 2 dan beberapa jenis kanker. "Dibutuhkan manajemen berat badan yang berkelanjutan selama beberapa tahun, kemungkinan 5-10 tahun, agar 'memori obesitas' ini perlahan memudar," ujarnya.

Namun, studi ini juga membuka peluang terapeutik baru. Para peneliti menyarankan penggunaan kembali obat-obatan tertentu, seperti penghambat SGLT2, yang menunjukkan potensi dalam mengurangi peradangan dan mempercepat pembersihan sel-sel tua (senesen) yang terganggu akibat jejak DNA obesitas.

Implikasi Jangka Panjang

Dr. Belinda Nedjai dari Queen Mary University London menekankan bahwa sistem imun menyimpan catatan molekuler dari metabolisme tubuh masa lalu. Sementara itu, Profesor Andy Hogan dari Maynooth University menambahkan bahwa temuan ini memberikan pemahaman lebih dalam mengenai mekanisme molekuler yang mendorong risiko kekambuhan obesitas.

Penelitian ini diharapkan dapat mengarah pada terapi target yang mampu memulihkan aktivitas imun normal, yang dapat digunakan bersamaan dengan terapi penurunan berat badan yang sudah ada untuk meminimalkan risiko penyakit kronis di masa depan. (Sciencedaily/H-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |