Tiongkok Bantah Proyek Hydropower Picu Banjir Bandang Nepal-Tibet

3 weeks ago 5
Tiongkok Bantah Proyek Hydropower Picu Banjir Bandang Nepal-Tibet Tiongkok membantah proyek hydropower di Tibet menjadi penyebab banjir bandang Nepal dan Tibet. Beijing menyebut bencana dipicu runtuhnya gletser dan longsor.(AFP)

PEMERINTAH Tiongkok membantah tudingan bahwa proyek pembangkit listrik tenaga air atau hydropower milik Beijing menjadi penyebab banjir bandang dahsyat yang melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Guo Jiakun mengatakan hasil kajian para ahli serta lembaga resmi dari Tiongkok dan Nepal menunjukkan bencana tersebut dipicu oleh faktor alam.

Menurut Guo, runtuhnya gletser di dataran tinggi Nepal memicu tanah longsor yang kemudian berkembang menjadi banjir bandang dan menerjang wilayah di sepanjang perbatasan.

Guo juga mengecam tuduhan yang menurutnya tidak memiliki dasar terhadap proyek hydropower Tiongkok. Ia menyebut Beijing justru ikut membantu Nepal dalam menghadapi dampak bencana tersebut.

"Pemerintah Tiongkok memberikan bantuan tunai darurat dan bantuan kemanusiaan kepada Nepal, dan 50 ton pertama bantuan bencana telah dikirim ke Kathmandu," kata Guo dalam konferensi pers dilansir seper CGTN, Selasa (1/9).

Selain bantuan kemanusiaan, Tiongkok mengirimkan tim penyelamat untuk membantu operasi di wilayah terdampak.

"Dua tim ahli penyelamat terowongan asal Tiongkok juga telah dikirim ke daerah yang terdampak di Nepal, dan Tiongkok juga telah berbagi informasi penting dengan Nepal, meliputi citra, data satelit dan hidrologi dari daerah terdampak, serta peringatan dini tentang danau penghalang di hulu," tambahnya.

Sebelumnya, spekulasi mengenai penyebab bencana beredar luas di media sosial. Sejumlah warganet menduga proyek hydropower raksasa Tiongkok di Tibet memiliki kaitan dengan banjir bandang yang menewaskan hampir 1.000 orang di wilayah Nepal dan Tibet.

Proyek yang menjadi sorotan tersebut berada di bagian hilir Sungai Yarlung Tsangpo di Tibet. Infrastruktur itu dirancang sebagai lima pembangkit listrik tenaga air yang beroperasi secara berantai atau cascade.

Pembangunan proyek tersebut dimulai pada Juli 2025 dan sejak awal menjadi perhatian karena skalanya yang besar serta lokasinya yang berada di kawasan hulu sungai yang mengalir menuju sejumlah wilayah di Asia Selatan.

Namun, Brahma Chellaney, ahli geostrategi sekaligus kolumnis asal India, mengatakan bencana tersebut pada dasarnya dipicu oleh faktor alam dan bukan secara langsung disebabkan oleh proyek hydropower Tiongkok.

Meski demikian, Chellaney menilai aktivitas Tiongkok di wilayah hulu dan keberadaan infrastruktur di kawasan Tibet berpotensi memperburuk dampak bencana ketika air dan material longsoran bergerak ke wilayah hilir.

"Dengan kata lain, tindakan Tiongkok di hulu tidak menyebabkan longsor gletser tetapi berkontribusi pada tingkat keparahan bencana dan dampak berantai di hilir," tulisnya dalam unggahan di media sosial.

Pernyataan tersebut menambah perdebatan mengenai faktor yang berkontribusi terhadap besarnya dampak bencana di kawasan Himalaya. 

Di satu sisi, pemerintah Tiongkok menilai penyebab utama bencana adalah runtuhnya gletser yang kemudian memicu longsor dan banjir bandang. 

Di sisi lain, sejumlah pengamat mempertanyakan dampak aktivitas pembangunan dan perubahan kondisi hidrologi di kawasan hulu terhadap wilayah yang berada di hilir.

Tiongkok sendiri menegaskan komitmennya untuk membantu Nepal dalam penanganan bencana, termasuk melalui bantuan kemanusiaan, pengiriman tenaga ahli, serta pertukaran data dan informasi mengenai kondisi wilayah terdampak. (Z-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |