Trump Pilih Jalur Diplomasi dengan Iran Ikuti Saran Saudi Abaikan Israel

3 days ago 5
Trump Pilih Jalur Diplomasi dengan Iran Ikuti Saran Saudi Abaikan Israel Donald Trump.(Al Jazeera)

SETELAH berhari-hari melontarkan ancaman untuk meluncurkan serangan baru terhadap Iran, Presiden Donald Trump kini kembali mencoba mencapai melalui jalur diplomasi yang belum berhasil ia selesaikan melalui perang. Fokus utama saat ini ialah apakah mitra-mitra AS di kawasan Teluk dapat membuat kemajuan dalam beberapa hari ke depan untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran, setidaknya untuk sementara, serta meletakkan dasar bagi pembicaraan nuklir di masa depan.

Meskipun upaya sebelumnya di kedua lini tersebut gagal selama berbulan-bulan, terdapat tanda-tanda awal kemajuan pada Minggu (2/5) terkait pembukaan kembali jalur air strategis tersebut. Oman dan Iran mencatat ada perkembangan positif dalam negosiasi mereka.

Penundaan Serangan Militer Terbesar

Trump mengungkapkan kepada wartawan pada Minggu bahwa Amerika Serikat akan terlibat dalam pembicaraan yang dimulai pada Senin sore. Ia mengaku sebelumnya bersiap untuk meluncurkan serangan militer terbesar sejak Perang Dunia II, tetapi rencana tersebut dibatalkan setelah adanya desakan dari sekutu-sekutu AS.

"Kami sudah siap berangkat, tetapi ketika sekutu meminta untuk membatalkannya, Anda harus berkata, 'Baiklah, mari kita lihat nanti'," ujar Trump.

Namun, para ahli memperingatkan bahwa jika pembicaraan ini gagal seperti sebelumnya, Trump kemungkinan besar akan kembali ke siklus ancaman militer. Vali Nasr, pakar Iran dari Johns Hopkins University, menilai bahwa Trump sedang mencoba solusi diplomatik untuk menghindari eskalasi militer, meski belum ada jalur yang jelas bagi Trump untuk mendeklarasikan kemenangan secara diplomatis maupun militer.

Dampak Ekonomi dan Tekanan Domestik

Siklus ketegangan itu mendestabilisasi Timur Tengah dan mempersulit agenda domestik pemerintahan Trump. Dalam beberapa pekan terakhir, Iran melakukan serangan terhadap sejumlah sekutu AS di wilayah tersebut, termasuk Yordania, Bahrain, dan Kuwait. Sementara itu, kelompok proksi Iran di Irak meluncurkan drone ke arah Arab Saudi.

Kemampuan Iran untuk menutup Selat Hormuz secara efektif memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan memaksa AS serta negara-negara lain menggunakan cadangan minyak mereka. Di dalam negeri, Partai Republik di Kongres mulai menekan Gedung Putih untuk memperjelas tujuan perang dengan Iran dan bagaimana konflik ini akan berakhir, terutama dengan sisa waktu tiga bulan menuju pemilihan paruh waktu.

Catatan Konflik: Kekhawatiran ini semakin diperparah dengan tewasnya tiga tentara AS dalam serangan rudal Iran terhadap pangkalan mereka di Yordania, menambah total personel militer AS yang gugur menjadi 18 orang sejak Februari.

Peran Arab Saudi dan Ketidakhadiran Israel

Trump menyatakan bahwa pembatalan serangan tersebut juga dipengaruhi oleh komunikasinya dengan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS). Menurut Trump, MBS lebih memilih kesepakatan diplomatik daripada serangan militer karena ketidakpastian dampak yang ditimbulkan dari serangan tersebut.

Menariknya, dalam proses pengambilan keputusan ini, Trump dilaporkan tidak menghubungi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, sekutu setianya yang selama ini menjadi suara paling vokal dalam mendorong tindakan militer terhadap Teheran.

Sinyal Pembukaan Selat Hormuz

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa pembicaraan dengan Oman mengenai mekanisme pelintasan kapal di Selat Hormuz sudah memasuki tahap akhir. Araghchi juga berkomunikasi dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, untuk membahas langkah-langkah deeskalasi lebih lanjut.

Meski demikian, para kritikus menilai perubahan sikap Trump yang tiba-tiba mencerminkan ketidakbahagiaannya terhadap opsi militer dan diplomatik yang tersisa, alih-alih strategi yang terkalibrasi dengan matang. Daniel Shapiro, mantan pejabat Pentagon, menyebut fluktuasi sikap ini dapat merusak daya getar AS di mata sekutu maupun lawan.

Saat ini, jalur diplomatik memberikan perlindungan bagi Trump dari risiko aksi militer besar. Namun, para ahli seperti Suzanne Maloney dari Brookings Institution mengingatkan bahwa merundingkan resolusi yang menjaga kebebasan navigasi tidak akan mudah dan membutuhkan fokus serta perhatian jangka panjang yang konsisten dari pemerintah. (The Wall Street Journal/I-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |