Ilustrasi.(Magnific)
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump memprediksi konflik bersenjata dengan Iran akan segera berakhir setelah pemilihan paruh waktu Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang. Trump menuding Teheran sengaja memanfaatkan situasi perang untuk memengaruhi hasil pemungutan suara di Negeri Paman Sam.
Menurut Trump, Iran tidak akan mampu bertahan lebih lama menghadapi tekanan ekonomi masif yang diberikan oleh pemerintahannya. Ia meyakini bahwa strategi Iran saat ini hanyalah upaya untuk mengganggu stabilitas politik AS menjelang pemilu.
"Saya pikir perang akan berakhir segera setelah pemilihan karena mereka tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Mereka sangat ingin mencoba memengaruhi pemilihan," ujar Trump kepada awak media sebelum bertolak menghadiri Konvensi Nasional Partai Republik di Dallas, Rabu (9/9).
Prediksi Harga Minyak dan Diplomasi
Selain masalah keamanan, Trump juga menyoroti dampak ekonomi dari konflik tersebut. Ia memperkirakan harga minyak dunia akan mengalami penurunan signifikan setelah proses pemilu berakhir. Terkait solusi damai, Trump mengakui ada celah untuk jalur diplomatik, meski hal itu bukan fokus utama saat ini.
"Ya, negosiasi mungkin saja terjadi, tetapi itu bukan sesuatu yang sedang kami pertimbangkan," tegasnya.
Sebagai informasi, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di bawah kepemimpinan Trump telah memasuki bulan ketujuh. Hingga saat ini, eskalasi di lapangan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Eskalasi di Selat Hormuz
Pada Rabu (9/9), pihak Iran mengeklaim telah melakukan serangan terhadap 10 kapal di kawasan strategis Selat Hormuz. Aksi ini disebut sebagai balasan setelah Amerika Serikat dilaporkan menenggelamkan lima kapal tanker minyak milik Iran.
Meningkatnya intensitas pertempuran di jalur perdagangan minyak tersebut berdampak langsung pada pasar global. Harga minyak mentah Brent berjangka dilaporkan menembus level US$100 per barel, angka tertinggi sejak Juli lalu.
Tekanan Domestik bagi Trump
Di tengah situasi geopolitik yang memanas, popularitas Trump di dalam negeri justru dilaporkan mengalami penurunan. Tingkat kepuasan publik terhadap kinerjanya merosot ke titik terendah sepanjang sejarah.
Penurunan ini dipicu oleh meningkatnya kekecewaan pemilih terhadap keterlibatan AS dalam perang dengan Iran serta memburuknya krisis biaya hidup yang membebani masyarakat. Pemilihan paruh waktu AS yang dijadwalkan pada 3 November mendatang akan menjadi ujian krusial bagi Trump dan Partai Republik, mengingat pemilu ini sering dianggap sebagai referendum terhadap kinerja presiden yang sedang menjabat. (I-2)


















































