Seorang warga membawa galon berisi air dari tandon yang disalurkan petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) saat pendistribusian bantuan air bersih di Desa Kunden, Bulu, Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (24/7/2026)(ANTARA/Mohammad Ayudha)
KEKERINGAN sebagai dampak kemarau di Jawa Tengah menjadi ancaman serius, warga mulai kelimpungan untuk mendapatkan sumber air bersih, hingga bantuan terus digelontorkan ke ratusan ribu keluarga di ratusan desa terdampak.
Pemantauan Media Indonesia Minggu (2/8) meskipun masih ada hujan turun di sejumlah daerah di Jawa Tengah, namun kekeringan sebagai dampak kemarau panjang madih menjadi ancaman serius di sejumlah daerah, bahkan ribuan warga hanya dapat mengandalkan bantuan air bersih untuk kebutuhan konsumsi karena tidak adanya sumber mata air di desanya.
"Setiap kemarau kami selalu kesulitan air bersih, bahkan warga berkali-kali menggali sumur bor tidak keluar air membuat kondisi semakin berat, " kata Sekretaris Desa Banjardowo, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan Hadi Sukanto.
Hal serupa juga diungkapkan Rochmad, warga Desa Pengkoljagong, Kecamatan Jati, Kabupaten Blora mengaku selalu mengalami kesulitan air bersih saat terjadi kemarau panjang, sehingga untuk memenuhi kebutuhan untuk konsumsi hanya dapat mengandalkan bantuan air bersih dari pemerintah. "Sumur dan mata mengering, bahkan kami mencari air bersih cukup jauh masuk hutan" imbuhnya.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan mengungkapkan kekeringan di Jawa Tengah hibgga awal Agustus ini telah melanda 24 kabupaten/kota, sehingga bantuan air bersih terus digelontorkan untuk memenuhi kebutuhan ratusan ribu warga terdampak.
Hingga akhir Juli, menurut Bergas Catursasi Penanggungan, sebanyak 5,7 juta liter bantuan air bersih telah disalurkan kepada 184.643 jiwa (61.139 keluarga) yang tersebar di 148 desa, jumlah ini meningkat dibanding awal Juli lalu sebab tak 1,6 juta liter yang mencatat diberikan kepada 35.727 jiwa (12.208 keluarga) di 49 desa.
"Klaten menjadi daerah dengan distribusi air bersih terbesar mencapai 1,74 juta liter, diikuti Pemalang 918 ribu liter, Banjarnegara 432 ribu liter, Grobogan 315 ribu liter, Banyumas 210 ribu liter, Purbalingga 145 ribu liter, Jepara 138 ribu liter, Cilacap 137 ribu liter, Sukoharjo 130 ribu liter dan Boyolali 118 ribu liter, " ujar Bergas Catursasi Penanggungan.
Puncak Kemarau di 32 Daerah
Sementara itu dalam rilisnya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan pada Agustus ini, sebagian besar wilayah Jawa Tengah diprediksi mengalami puncak musim kemarau, setidaknya ada 32 dari 35 daerah (83, 3 persen)di provinsi ini berpotensi dilanda kemarau.
Berikut daerah di Jawa Tengah dilanda kemarau pada Agustus 2026: Kota Tegal Kota Pekalongan, Kota Semarang, Kota Salatiga, Kota Magelang, Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal Kabupaten, Kendal Kabupaten Semarang, Kabupaten Magelang, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Banjarnegara.
Selain itu Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Cilacap, sebagian besar wilayah Kabupaten Pemalang, sebagian besar wilayah Kabupaten Pekalongan, sebagian besar wilayah Kabupaten Batang, sebagian besar wilayah Kabupaten Pati, sebagian besar wilayah Kabupaten Rembang
Selanjutnya sebagian besar wilayah Kabupaten Grobogan, sebagian besar wilayah Kabupaten Boyolali, sebagian besar wilayah Kabupaten Sukoharjo, sebagian besar wilayah Kabupaten Wonogiri, sebagian wilayah Kabupaten Demak, sebagian wilayah Kabupaten Sragen, sebagian wilayah Kabupaten Karanganyar, sebagian kecil wilayah Kabupaten Kudus serta sebagian kecil wilayah Kabupaten Blora.
Antisipasi Karhutla
Tidak hanya kekeringan, kemarau panjang ini juga berdampak terjadinya bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai daerah, BPBD Jawa Tengah mencatat hingga akhir Juli terdampat 37 kejadian karhutla di 16 kabupaten/kota yang menelan 42 hektare lahan dengan daerah terbesar di Sukoharjo, Blora, Klaten dan Sragen.
Kepala Bidang Humas Polda Jawa Tengah Kombes Yuliyanto mengatakan sebagai antisipasi karhutla terus memperkuat langkah-langkah pencegahan dengan mengerahkan anggota di seluruh polres jajaran untuk melakukan monitoring dengan meningkatkan patroli di kawasan hutan, perkebunan, lahan pertanian, serta wilayah lain yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
“Selain melakukan patroli, jani pantau hotspot berbasis data satelit juga terus dioptimalkan, setiap titik panas yang terdeteksi segera diverifikasi oleh personel di lapangan agar kondisi sebenarnya dapat diketahui secepat mungkin, " kata Yuliyanto.
Sebagian besar kebakaran lahan pada musim kemarau, ungkap Yuliyanto, dipicu oleh aktivitas manusia yang kurang memperhatikan faktor keselamatan, terutama saat membersihkan lahan atau membakar sisa hasil panen, hembusan angin mempercepat penyebaran kebakaran semula kecil menjadi besar hingga sulit dikendalikan.
Polda Jawa Tengah akan terus memperkuat patroli, demikian Yuliyanto, meningkatkan pemantauan hotspot, juga mempererat koordinasi dengan BPBD, TNI, Perhutani, pemerintah daerah, pemerintah desa, hingga kelompok masyarakat, karena keberhasilan mencegah karhutla tidak hanya bergantung pada aparat penegak hukum, tetapi juga memerlukan kesadaran dan partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat.(H-2)

















































