14 Daerah di Jawa Tengah Berstatus Awas Kekeringan, 722 Ribu Jiwa Terdampak

4 weeks ago 6
14 Daerah di Jawa Tengah Berstatus Awas Kekeringan, 722 Ribu Jiwa Terdampak Sungai di Jebor, Kabupaten Demak alami kekeringan hingga mengganggu pengairan ribuan hektare sawah Minggu (23/8)(MI/Akhmad Safuan)

KEKERINGAN yang melanda Jawa Tengah kini berada pada kondisi yang kian mengkhawatirkan. Berdasarkan pemantauan pada Minggu (23/8/2026), sebanyak 14 daerah telah masuk dalam kategori status Awas kekeringan akibat curah hujan yang terus berkurang secara drastis.

Data terbaru menunjukkan dampak kekeringan telah meluas ke 478 desa yang tersebar di 189 kecamatan di 30 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Sebanyak 722 ribu jiwa dilaporkan terdampak krisis air bersih, dengan total bantuan air yang telah disalurkan mencapai 23,5 juta liter.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, mengungkapkan bahwa dari 30 daerah terdampak, sebanyak 25 kabupaten/kota di antaranya telah menetapkan status siaga darurat kekeringan.

"Bantuan air bersih terus disalurkan untuk 722 ribu jiwa terdampak. Hingga kini, distribusi telah mencapai 23,5 juta liter ke 30 daerah. Bantuan ini juga didukung oleh Tagana Dinas Sosial, PMI, Baznas daerah, hingga pihak swasta," ujar Bergas.

Dampak Sektor Pertanian dan Perikanan

Kemarau panjang ini tidak hanya memicu krisis air bersih, tetapi juga melumpuhkan sektor ekonomi warga. Sejumlah sungai besar, seperti Sungai Juwana di Kabupaten Pati dan Sungai Avour di Desa Wonoketingal, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, dilaporkan kering kerontang.

Kondisi ini mengakibatkan ribuan hektare sawah tidak teraliri air, sehingga mengancam produktivitas pangan. Selain itu, ratusan kapal nelayan terpaksa menganggur karena debit air sungai yang menyusut drastis tidak memungkinkan untuk aktivitas pelayaran.

Peringatan BMKG: Status Awas hingga Waspada

BMKG Jawa Tengah mengeluarkan peringatan terkait ancaman kekeringan meteorologis pada dasarian III Agustus 2026. Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, menyebutkan peluang curah hujan rendah (di bawah 50 milimeter per dasarian) mencapai lebih dari 90 persen di seluruh wilayah Jateng pada periode 21-31 Agustus 2026.

Berikut adalah pembagian status kekeringan di Jawa Tengah menurut data BMKG:

  • Status Awas (Kritis): Demak, Kudus, Grobogan, Jepara, Pati, Rembang, Blora, Sragen, Karanganyar, Purworejo, Klaten, Magelang, Cilacap, dan Wonogiri. Status ini menandakan wilayah tidak mengalami hujan minimal 61 hari berturut-turut.
  • Status Siaga: Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Kebumen, Temanggung, Semarang, Boyolali, Sukoharjo, Kota Semarang, Kota Salatiga, dan Kota Magelang.
  • Status Waspada: Kota Tegal, Kota Pekalongan, dan Kota Surakarta.

Goeroeh menjelaskan bahwa status Awas merupakan kondisi paling kritis di mana sumber air berpotensi mengering total dan mengancam kebutuhan dasar masyarakat. "Pemerintah daerah dan instansi terkait diminta menyiapkan langkah cepat menghadapi potensi krisis air bersih dan memastikan distribusi air dilakukan secara berkala," pungkasnya.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |