Sekolah rusak.(Antara.)
KEMENTERIAN Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memantau dan menangani dampak bencana yang terjadi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), sejak 15 Agustus 2026. Pemantauan difokuskan pada keberlangsungan layanan pendidikan bagi peserta didik di tujuh kabupaten terdampak. Tujuh daerah tersebut meliputi Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka.
Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) Kemendikdasmen, Saryadi mengatakan bahwa pemantauan dilakukan bersama pemerintah daerah dan sejumlah pihak terkait untuk memastikan proses pembelajaran tetap berjalan di tengah kondisi tanggap darurat.
"Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana baru saja menyelenggarakan rapat pemantauan dan evaluasi pelaksanaan pembelajaran di masa tanggap darurat bersama Dinas Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur dan seluruh Dinas Pendidikan kabupaten terdampak," kata Saryadi dalam konferensi pers secara daring, Senin (14/9).
Berdasarkan hasil pendataan hingga 10 September 2026, tercatat sebanyak 2.447 satuan pendidikan mulai dari jenjang PAUD hingga SMA, SMK, dan SLB terdampak bencana. Dampak tersebut dirasakan oleh 287.864 peserta didik serta 32.585 guru dan tenaga kependidikan.
Selain itu, sebanyak 62.722 warga satuan pendidikan sempat berada di lokasi pengungsian. Jumlah tersebut terdiri atas 54.494 peserta didik dan 8.228 guru serta tenaga kependidikan.
Dari sisi kerusakan, sebanyak 730 satuan pendidikan tercatat mengalami kerusakan berat. Sementara itu, dari 13.750 ruang kelas yang telah dilaporkan, sebanyak 8.728 ruang kelas dinyatakan mengalami kerusakan.
Saryadi menegaskan, data tersebut masih dapat berubah karena proses pendataan dan verifikasi di lapangan masih berlangsung. "Angka ini masih akan bergerak seiring dengan pendataan yang terus berjalan dan selesainya proses verifikasi yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama-sama dengan pemerintah daerah," ujarnya.
Kemendikdasmen juga melibatkan tim revitalisasi dari berbagai direktorat dalam proses verifikasi kerusakan satuan pendidikan. Tim tersebut mencakup unsur yang menangani jenjang PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, PKPLK, dan PNF.
Di tengah proses penanganan bencana, aktivitas pembelajaran di wilayah terdampak terus berlangsung. Dari 2.447 satuan pendidikan yang dilaporkan terdampak, sebanyak 1.960 satuan pendidikan saat ini menyelenggarakan pembelajaran dalam moda darurat.
Pembelajaran darurat tersebut dilaksanakan di sejumlah lokasi, mulai dari tenda, ruang terbuka, hingga ruang kelas darurat. Sementara itu, sebanyak 487 satuan pendidikan telah kembali menyelenggarakan pembelajaran tatap muka secara normal di ruang kelas.
Saryadi mengapresiasi kerja sama seluruh pihak dalam menjaga keberlangsungan proses pendidikan selama masa tanggap darurat. "Ini adalah hasil kerja keras bersama antara pihak sekolah, tentunya para kepala sekolah dan juga dewan guru, bersama dengan pemerintah daerah dan juga tentunya seluruh mitra kami di lapangan," tuturnya. (Fik/P-3)


















































