Ilustrasi(magnifik)
Banyak sekali hal yang kita belum ketahui dari bumi ini, dari dalam maupun luar. Para peneliti terus bekerja keras untuk meneliti fakta dan hipotesis pada bidang sains, menemukan hal-hal baru yang bahkan belum diketahui sebelumnya. Selama bumi masih berputar, temuan-temuan menakjubkan lainnya tidak akan melambat. Dan kini, para ilmuwan kembali menemukan beberapa pengungkapan pada tahun 2026.
Dimulai dari arus laut melambat, menemukan logam langka yang memungkinkan membantu kehidupan awal, dan nanopartikel yang baru terdeksi di stratosfer bagian bawah.
Seiring berjalannya waktu, akan semakin banyak penemuan-penemuan terbaru yang membuka fakta lebih banyak lagi mengenai planet kita. Berikut adalah 4 penemuan terbaru dari para ilmuwan:
Arus Laut Perlahan Melemah, Iklim Bisa Tidak Beraturan
Arus laut merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi cuaca. Dipicu oleh angin di permukaan, arus laut ini bekerja seperti sabuk konveyor untuk mendistribusikan panas dan kelembaban di permukaan bumi kita.
Arus laut umumnya bergerak searah jarum jam di belahan bumi utara dan berlawanan arah jarum jam di belahan bumi selatan, hal ini guna mengangkut air hangat dari ekuator ke kutub dan air dingin dari kutub ke ekuator.
Namun kekhawatiran mulai muncul ketika para ilmuwan menemukan bahwa arus laut telah melambat selama dua dekade terakhir. Melihat data pemantauan laut jangka panjang yang dianalisis dan diterbitkan di Science Advances, arus laut kini sedang melemah dengan penurunan yang konsisten yang akan berpengaruh pada regulasi iklim.
Partikel Nano Tak Terdeteksi Baru Terlihat Tersebar di Stratosfer Bagian Bawah
Walaupun para ilmuwan sudah mengetahui banyak hal mengenai stratosfer di bumi, penemuan terbaru menunjukkan bahwa masih ada hal yang kita belum ketahui. Sebuah tim peneliti dari NASA, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), dan berbagai universitas menemukan partikel aerosol super halus yang kaya akan unsur organik di ketinggian tinggi di Kutub Utara.
Menggunakan instrumen canggih yang dibuat oleh ilmuwan NOAA yang mampu mendeteksi partikel sekecil 0,003 mikrometer. Dalam jurnal yang dipublikasi di jurnal Science, para peneliti menemukan partikel kecil yang menyumbang 90% dari total luas permukaan aerosol di bagian terendah stratosfer.
Sebelumnya, diyakini bahwa semua partikel kecil ini hanya berasal dari sulfat. Namun, ternyata ditemukan keberadaan bahan kimia organik yang ikut berkontribusi.
Logam Langka menjadi Alat Pembantu Kehidupan Awal di Bumi
Sejarah bumi masih memiliki banyak pertanyaan yang belum ditemukan jawabannya. Seperti penemuan berikut ini, dimana para ilmuwan di University of Wisconsin menemukan bahwa kehidupan awal tidak akan bertahan 3,4 miliar tahun yang lalu tanpa molibdenum.
Logam ini memiliki peran penting untuk banyak proses biokimia. Molibdenum mempercepat reaksi kimia untuk fiksasi nitrogen, dan tanpa molibdenum proses pembentukan unsur tersebut tidak akan berlangsung cukup cepat agar kehidupan bisa bertahan.
Dari studi yang dipublikasikan di Nature Communications, para peneliti menelusuri prevalensi logam tersebut dari waktu ke waktu, dan menemukan bahwa sistem enzim yang menggunakan molibdenum dan tungsten memiliki akar pada zaman Arkea, menunjukkan bahwa kehidupan awal kemungkinan bekerja dengan kedua logam tersebut.
Sumber: Sciencing.com


















































