5 Kebiasaan Orang Tua yang Hambat Anak Jadi Sukses

6 hours ago 2

CNN Indonesia

Kamis, 26 Feb 2026 23:00 WIB

Tanpa sadar, pola asuh harian bisa menghambat anak sukses. Ini 5 kebiasaan orang tua yang sebaiknya dihentikan. Ilustrasi. Beberapa hal yang dilakukan orang tua justru malah mencegah anak dari kesuksesan. (Istockphoto/ Monkeybusinessimages)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Setiap orang tua tentu ingin anak tumbuh menjadi pribadi yang sukses, mandiri, dan percaya diri. Namun, tanpa disadari, pola asuh sehari-hari justru kerap menjadi penghambat terbesar bagi potensi anak.

Kalau mau anak sukses, orang tua stop lakukan 5 hal ini. Niat baik dan kasih sayang saja tidak cukup jika cara yang digunakan justru membuat anak tumbuh rapuh dan bergantung.

Banyak tindakan yang dilakukan atas dasar cinta ternyata berdampak sebaliknya terhadap perkembangan karakter dan kemandirian anak. Kesalahan kecil yang dilakukan berulang setiap hari bisa membentuk pola pikir yang tidak tangguh.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setiap anak pada dasarnya memiliki dorongan alami untuk belajar dan mandiri. Tugas orang tua bukan mengambil alih, melainkan menciptakan lingkungan yang mendukung proses belajar tersebut.

Mengutip laman Sunshine Teachers Training, berikut kebiasaan yang sebaiknya dihentikan jika benar-benar ingin anak tumbuh menjadi pribadi yang sukses:

1. Melakukan segala sesuatu untuk anak

Membantu anak memang wajar. Namun, melakukan semua hal untuknya, mulai dari memakaikan baju, membereskan mainan, hingga menyelesaikan tugas sederhana justru menghilangkan kesempatan anak untuk belajar.

Anak membutuhkan ruang untuk mencoba, gagal, lalu memperbaiki diri. Jika orang tua terlalu cepat turun tangan, anak akan ragu pada kemampuannya sendiri.

Berikan kesempatan sesuai usia. Biarkan anak menyelesaikan tugas kecilnya sendiri, meski hasilnya belum sempurna.

2. Terlalu sering memberi pujian dan hadiah

Pujian penting, tetapi pujian berlebihan dan hadiah yang terus-menerus bisa membuat anak bergantung pada validasi eksternal.

Pada akhirnya, anak melakukan sesuatu bukan karena kesadaran atau tanggung jawab, melainkan demi mendapatkan pengakuan. Motivasi seperti ini cenderung rapuh dan mudah hilang ketika pujian tidak lagi diberikan.

Cobalah memberi umpan balik yang spesifik dan objektif. Apresiasi usaha dan prosesnya, bukan hanya hasil akhir. Dengan begitu, anak belajar menghargai pencapaian dari dalam dirinya sendiri.

3. Menjadwalkan aktivitas secara berlebihan

Keinginan memberi yang terbaik sering membuat orang tua memenuhi jadwal anak dengan berbagai kursus dan kegiatan tambahan. Sekilas terlihat produktif, tetapi anak bisa kehilangan waktu untuk bermain bebas.

Padahal, melalui aktivitas yang tidak terstruktur, anak belajar fokus, kreatif, dan mengenali minatnya sendiri. Terlalu banyak intervensi justru menghambat proses eksplorasi yang penting bagi perkembangan diri.

Anak juga butuh waktu luang untuk sekadar bosan, karena dari situlah kreativitas sering tumbuh.

4. Selalu menyelesaikan masalah anak

Naluri melindungi membuat orang tua ingin segera menyelamatkan anak saat menghadapi konflik atau kesulitan. Padahal, masalah adalah bagian penting dari proses belajar.

Jika selalu diselamatkan, anak tidak belajar mengambil keputusan atau menghadapi konsekuensi. Dalam jangka panjang, ia bisa kesulitan menghadapi tantangan di dunia nyata.

Peran orang tua seharusnya menjadi pendamping yang memberi arahan seperlunya, bukan penyelesai utama. Dampingi, dengarkan, lalu biarkan anak mencoba mencari solusi.

5. Terlalu mengontrol dan tidak memberi kepercayaan

Mengatur setiap detail aktivitas anak, mengoreksi setiap langkah, dan menuntut hasil sempurna bisa meruntuhkan rasa percaya diri.

Kontrol berlebihan mengirim pesan bahwa orang tua tidak percaya pada kemampuan anak. Akibatnya, anak menjadi takut salah dan enggan mencoba hal baru.

Sebaliknya, kepercayaan yang disertai batasan yang jelas akan membantu anak belajar bertanggung jawab dan berani mengambil keputusan.

Kesuksesan anak tidak hanya ditentukan oleh nilai akademik, tetapi juga oleh kemandirian, ketangguhan, dan rasa percaya diri yang dibangun sejak dini.

Kalau mau anak sukses, orang tua perlu berani mengevaluasi pola asuh sehari-hari. Dengan menghentikan kebiasaan yang menghambat dan mulai memberi ruang bagi anak untuk tumbuh, orang tua telah mengambil langkah penting menuju masa depan yang lebih berdaya.

(gas/tis)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |