Charity Fun Run for Buya Hamka(Shiratha)
Shiratha sukses menyelenggarakan kegiatan Charity Fun Run for Buya Hamka di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Pusat, pada Minggu (13/9). Acara yang diikuti oleh sekitar 600 peserta ini menggabungkan semangat gaya hidup sehat dengan misi kemanusiaan dan pelestarian sejarah.
Selain lari amal, momen ini dimanfaatkan Shiratha untuk memperkenalkan aplikasi terbarunya. Platform digital ini dirancang khusus untuk memudahkan masyarakat dalam mengakses layanan perjalanan ibadah umrah secara lebih praktis dan transparan.
CEO sekaligus Founder Shiratha, Aan Yugiastomo, menjelaskan bahwa seluruh dana yang terkumpul dari biaya pendaftaran peserta akan disalurkan sepenuhnya untuk pembangunan fasilitas penunjang di kawasan kelahiran Buya Hamka. Proyek restorasi kawasan bersejarah tersebut diperkirakan membutuhkan anggaran awal sekitar Rp1,5 miliar.
"Dengan penyelenggaraan ini, maka Insyaallah nanti semua hasil dari pendaftaran kami salurkan untuk membangun kembali Kampung Buya Hamka," ujar Aan di sela-sela acara.
Aan menambahkan, kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi dengan Lembaga Wakaf Majelis Ulama Indonesia (LW MUI) dan MUI. Ia berharap ke depannya akan ada lebih banyak acara serupa dengan tema tokoh-tokoh bangsa lainnya yang memiliki kontribusi besar, khususnya yang berkaitan dengan sejarah MUI.
Peluncuran aplikasi ini juga menandai perubahan identitas perusahaan, yang sebelumnya dikenal dengan nama Treetan kini resmi menjadi Shiratha. Rebranding ini membawa komitmen baru bagi perusahaan untuk lebih aktif terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan.
"Kita perlu mengadakan lagi acara-acara seperti ini bersama LW MUI dan MUI. Dengan tema tokoh-tokoh pelopor, kita bisa membuat agenda menarik agar antusiasme masyarakat kembali tinggi," tambah Aan.
Potensi Wisata Spiritual Danau Maninjau
Sekretaris Jenderal MUI, Amirsyah Tambunan, yang turut hadir dalam acara tersebut, memberikan apresiasi terhadap inisiatif ini. Ia menyoroti potensi besar pengembangan wisata spiritual di kawasan Danau Maninjau, Sumatera Barat, yang merupakan jejak kehidupan Buya Hamka. Menurut Amirsyah, pengembangan kawasan tersebut dapat dioptimalkan melalui konsep wakaf dengan membangun dana abadi yang dikelola secara berkelanjutan.
"Dana tersebut nantinya dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan kawasan wisata sekaligus memberi manfaat sosial bagi masyarakat sekitar," jelasnya.
Ia menekankan bahwa wisata spiritual tidak boleh hanya berorientasi pada bisnis, tetapi juga harus mampu memberdayakan masyarakat lokal dan memperkuat nilai-nilai sosial. (E-3)


















































