7.500 Mahasiswa Baru USK Ikuti Pemetaan Kompetensi Bahasa Inggris

1 month ago 33
7.500 Mahasiswa Baru USK Ikuti Pemetaan Kompetensi Bahasa Inggris Sebanyak 7.500 mahasiswa baru Universitas Syiah Kuala (USK) tahun akademik 2026/2027 mengikuti pemetaan kompetensi Bahasa Inggris.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

SEBANYAK 7.500 mahasiswa baru Universitas Syiah Kuala (USK) tahun akademik 2026/2027 mengikuti pemetaan kompetensi Bahasa Inggris berbasis e-learning. Kegiatan ini ditujukan bagi mahasiswa jenjang S1, D4, dan D3 untuk mengetahui kemampuan awal Bahasa Inggris sebelum mengikuti proses pembelajaran di kampus.

Pemetaan dilaksanakan selama lima hari, yakni 22, 23, 29, dan 30 Agustus serta 5 September 2026. Kegiatan berlangsung di Laboratorium Komputer USK.

Pelaksanaan kegiatan berada di bawah koordinasi Wakil Rektor Bidang Akademik melalui Direktorat Pendidikan dan Administrasi Akademik (DPAA), dengan melibatkan UPT Bahasa, UPT Data dan Teknologi Informasi, serta UPT Perpustakaan dan E-Learning.

Kepala UPT Pusat Bahasa USK sekaligus Ketua Pelaksana, Kismullah, mengatakan pemetaan kompetensi Bahasa Inggris merupakan agenda rutin tahunan untuk mengetahui kemampuan dasar mahasiswa baru.

“Ingin mendapatkan gambaran kemampuan awal mahasiswa. Sehingga pembelajaran ke depan dapat dirancang lebih tepat sesuai kebutuhan mereka,” kata Kismullah, Sabtu (22/8).

Materi yang diujikan berupa tes profisiensi Bahasa Inggris yang menyerupai TOEFL. Materi tersebut meliputi kemampuan listening, grammar, dan reading.

Menurut Kismullah, hasil pemetaan akan menjadi salah satu dasar USK dalam meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris mahasiswa. Universitas menargetkan mahasiswa baru dapat mencapai skor TOEFL minimal 477 dalam waktu dua tahun.

“Tujuannya, USK menargetkan mahasiswa baru ini berhasil mencapai nilai TOEFL minimal 477 dalam dua tahun,” ujarnya.

Tahun ini, USK juga mengubah sistem pelaksanaan pemetaan. Jika sebelumnya mahasiswa mengerjakan tes melalui Google Form, kini pemetaan dilakukan menggunakan sistem e-learning.

Kismullah mengatakan penerapan sistem tersebut diharapkan membuat proses pemetaan lebih terstruktur sekaligus memudahkan pengelolaan hasil tes.

“Dengan sistem e-learning, prosesnya menjadi lebih terstruktur, mahasiswa lebih terbiasa dengan pembelajaran digital, dan kita juga lebih mudah dalam mengelola serta memantau hasil pemetaan,” katanya.

Rektor USK Mirza Tabrani mengatakan pemetaan kompetensi Bahasa Inggris tidak hanya bertujuan mengukur kemampuan mahasiswa, tetapi menjadi langkah awal untuk mengetahui kebutuhan pembelajaran mereka.

“Pemetaan ini bukan sekadar tes. Ini adalah starting point untuk mengidentifikasi kemampuan berbahasa Inggris mahasiswa sejak awal,” kata Mirza setelah memantau pelaksanaan kegiatan.

Menurut dia, hasil pemetaan dapat digunakan universitas untuk menentukan dukungan pembelajaran yang sesuai selama mahasiswa menjalani masa studi. Kemampuan Bahasa Inggris dinilai penting agar lulusan USK mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

“Untuk itulah, USK sedini mungkin membekali mahasiswa dengan kemampuan berbahasa Inggris yang baik. Sebab bahasa Inggris adalah kompetensi penting untuk bersaing di era globalisasi sekarang,” ujarnya.

Mirza menambahkan penerapan e-learning merupakan bagian dari upaya USK beradaptasi dengan perkembangan teknologi dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi.

“Kita harus terbiasa dengan penerapan e-learning. Sebab sistem digital ini tidak hanya digunakan untuk kegiatan pembelajaran, tetapi juga mendukung berbagai proses akademik yang membutuhkan efisiensi dan ketepatan data,” katanya. (E-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |