Ada Car Free Day, Kualitas Udara Jakarta Justru Tiga Terburuk di Dunia pada Minggu Pagi

1 week ago 23
Ada Car Free Day, Kualitas Udara Jakarta Justru Tiga Terburuk di Dunia pada Minggu Pagi Ilustrasi(Antara)

KUALITAS udara di Jakarta berada dalam kategori tidak sehat pada Minggu (13/9) pagi. Berdasarkan pemantauan IQAir, Jakarta menempati peringkat ketiga sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia, berada di bawah Kinshasa, Kongo, dan Kampala, Uganda. Padahal, setiap Minggu diadakan hari bebas kendaraan bermotor (HBKB) atau car free day (CFD) di wilayah Ibu Kota.

Data IQAir yang tercatat pada pukul 05.50 WIB menunjukkan, Indeks Kualitas Udara (AQI) Jakarta mencapai 158, yang masuk dalam kategori tidak sehat. Kondisi tersebut terutama dipengaruhi oleh tingginya konsentrasi partikulat halus atau PM2,5.

Pada waktu pengukuran tersebut, konsentrasi PM2,5 di Jakarta tercatat sebesar 65,3 mikrogram per meter kubik. Paparan pada tingkat tersebut dapat berdampak terhadap kesehatan, terutama bagi kelompok masyarakat yang sensitif terhadap polusi udara.

Secara umum, PM2,5 merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan kualitas udara. Semakin tinggi konsentrasinya, semakin besar pula potensi dampak terhadap kesehatan manusia maupun lingkungan.

Jakarta Peringkat Ketiga Kota dengan Udara Terburuk

Berdasarkan data IQAir pada Minggu pagi, berikut lima kota dengan kualitas udara terburuk yang tercatat saat pengukuran:

 1. Kinshasa, Kongo — AQI 215
2. Kampala, Uganda — AQI 162
3. Jakarta, Indonesia — AQI 158
4. Kuching, Malaysia — AQI 157
5. Baghdad, Irak — AQI 153

Dengan AQI 158, Jakarta berada dalam kategori yang perlu mendapat perhatian, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang sensitif terhadap paparan polusi udara.

Tingkatan Kualitas Udara Berdasarkan PM2,5

Kualitas udara dapat dikelompokkan berdasarkan tingkat konsentrasi partikulat PM2,5. Pada rentang 0-50, kualitas udara berada dalam kategori baik. Kondisi ini umumnya tidak memberikan dampak berarti terhadap kesehatan manusia maupun hewan serta tidak menimbulkan pengaruh terhadap tumbuhan, bangunan, dan nilai estetika.

Selanjutnya, konsentrasi PM2,5 pada kisaran 51-100 berada pada tingkat yang dapat mulai memengaruhi kelompok atau organisme yang sensitif, termasuk tumbuhan, serta dapat berdampak terhadap nilai estetika.

Untuk kategori sangat tidak sehat, rentang PM2,5 berada pada angka 200-299. Kondisi tersebut berpotensi merugikan kesehatan sejumlah kelompok masyarakat yang terpapar.

Sementara itu, kategori berbahaya berada pada rentang 300-500. Pada level tersebut, kualitas udara secara umum dapat menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat.

Imbauan bagi Warga Jakarta

Mengingat kondisi kualitas udara Jakarta yang berada dalam kategori tidak sehat, masyarakat disarankan meningkatkan perlindungan diri ketika beraktivitas di luar ruangan.

Warga DKI Jakarta direkomendasikan menggunakan masker saat berada di luar rumah, mengurangi paparan udara dari luar dengan menutup jendela, serta menggunakan alat penyaring atau pemurni udara di dalam ruangan. (Ant/E-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |