AESI Dukung Target 30 GW PLTS dan Program 1 MW Per Desa

1 month ago 6
AESI Dukung Target 30 GW PLTS dan Program 1 MW Per Desa Ilustrasi--Petugas melakukan perawatan panel surya di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (6/5/2026).(ANTARA/Ahmad Naufal Oktavian)

ASOSIASI Energi Surya Indonesia (AESI) menyatakan kesiapan mereka mendukung penuh komitmen Pemerintah dalam mempercepat program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) secara nasional. Langkah ini diambil merespons target ambisius pemerintah untuk membangun 30 GW PLTS pada tahun ini, yang dinilai sebagai sinyal kuat dimulainya fase eksekusi strategis pemanfaatan energi surya di Indonesia.

Ketua Umum AESI, Mada Ayu Habsari, menegaskan bahwa sebagai wadah ekosistem energi surya nasional, AESI akan menjadi mitra strategis pemerintah dalam mengawal transisi energi. Fokus utama asosiasi saat ini adalah memastikan kesiapan dari hulu hingga hilir.

"Tugas industri saat ini adalah memastikan kesiapan di sisi kami, mulai dari rantai pasok, kualitas pemasangan, hingga tenaga kerja yang tersertifikasi," ujar Mada dalam kegiatan Indosolar 2026 di Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Empat Task Force Strategis AESI

MI/HO--Indosolar 2026

Untuk merealisasikan target tersebut secara terukur, AESI telah membentuk empat satuan tugas (Task Force) dengan fokus yang spesifik:

Task Force Fokus Utama
100 GW Memetakan jalan menuju pemanfaatan energi surya nasional secara pragmatis.
Rooftop Solar Mendorong pemanfaatan PLTS atap secara masif untuk mendukung target nasional.
IPP (Independent Power Producer) Mengawal proses pengadaan PLTS agar bankable dan menarik bagi investasi.
Green Workforce Memastikan ketersediaan SDM industri surya yang mumpuni dan tersertifikasi.

Visi 1 MW Per Desa dan Pemberdayaan Perempuan

AESI juga memberikan perhatian khusus pada visi Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan setiap desa memiliki PLTS berkapasitas 1 MW. Untuk mendukung pemerataan energi ini, AESI tengah mengembangkan model sandbox guna mewujudkan kemandirian energi berbasis komunitas.

Model ini memanfaatkan karakter PLTS yang modular sebagai solusi bagi wilayah yang sulit dijangkau jaringan kelistrikan konvensional, termasuk untuk fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan koperasi desa. Dalam skema ini, AESI menempatkan pemberdayaan perempuan sebagai pilar penting melalui kerja sama dengan Kementerian Koperasi.

Jaringan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih akan dioptimalkan sebagai service centre. Melalui Task Force Green Workforce, AESI akan melatih perempuan di desa agar memiliki kemampuan teknis dalam perbaikan dan pemeliharaan PLTS secara mandiri.

"Selama ini perawatan PLTS di desa masih bergantung pada teknisi dari luar wilayah. Kami ingin perempuan di desa memiliki keterampilan untuk menjaga sistem PLTS 1 MW ini, memberikan pendapatan tambahan, sekaligus menjaga keandalan aset negara di lapangan," tegas Mada.

Kekuatan Ekosistem Industri

Saat ini, AESI menghimpun sekitar 164 anggota yang mencakup manufaktur, developer, penyedia teknologi, hingga lembaga keuangan. Keberhasilan peluncuran 1,3 GW PLTS Atap pada April 2026 lalu, yang didukung oleh Permen ESDM Nomor 2 Tahun 2024, menjadi bukti nyata efektivitas kolaborasi lintas pihak.

Mada menutup dengan optimisme bahwa dengan peningkatan komponen dalam negeri (TKDN) dan penyerapan tenaga kerja hijau, target energi nasional dapat tercapai.

"Pekerjaan ini memang tidak mudah dan tidak instan, tetapi dengan kerja bersama-sama, jalan menuju target energi nasional mungkin tercapai," pungkasnya. (Z-1)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |