Petenis asal Jerman Alexander Zverev menjuarai AS Terbuka 2026(Dimitar DILKOFF / AFP)
ALEXANDER Zverev sukses menjadi juara di gelaran AS Terbuka 2026 setelah menumbangkan petenis tuan rumah Ben Shelton melalui pertarungan empat set 6-3, 7-6 (7/2), 5-7, dan 6-2 di Arthur Ashe Stadium, Minggu (13/9) waktu setempat.
Kemenangan ini menjadi trofi Grand Slam kedua bagi Zverev sepanjang 2026 usai sebelumnya menjuarai Prancis Terbuka. Hasil itu sekaligus membalas kenangan pahit di tempat yang sama pada 2026 saat ia harus melupakan mimpi juaranya akibat takluk dari Dominic Thiem.
"Saya pikir Tuhan telah melihat betapa keras kami bekerja, betapa banyak kami menderita, dan betapa banyak rasa sakit yang kami lalui," ungkap Zverev dikutip dari AFP.
Memulai laga dengan ketenangan tinggi, Zverev langsung memimpin setelah mematahkan servis Shelton pada gim pembuka dan menyegel set pertama 6-3. Dominasi petenis berusia 29 tahun itu berlanjut pada set kedua lewat kemenangan tie-break 7-2.
Shelton sempat memberi perlawanan sengit pada set ketiga. Memanfaatkan gelombang dukungan penonton, petenis berusia 23 tahun itu berhasil mencuri kemenangan 7-5.
Kendati demikian, momentum bangkit tersebut segera diredam. Zverev langsung mematahkan servis Shelton di gim awal set keempat dan terus mendominasi hingga mengunci kemenangan 6-2.
Petenis peringkat dua dunia itu bahkan mengaku sempat hilang fokus pada papan skor saking terlarutnya dalam permainan.
"Saat itu saya sangat berada dalam zona. Saya tidak mendengar suara apa pun," ujar Zverev.
Gelar di New York makin menegaskan konsistensi Zverev musim ini setelah menembus final Wimbledon. Dengan absennya Jannik Sinner akibat cedera lutut, peluang Zverev untuk merebut predikat peringkat satu dunia kini terbuka lebar.
"Saya mungkin bisa mengatakan bahwa saya adalah pemain terbaik di dunia sekarang," ucap Zverev.
Bagi Shelton, kekalahan ini memperpanjang dahaga publik tuan rumah akan gelar Grand Slam tunggal putra yang telah berlangsung selama 23 tahun. Meski sempat menyingkirkan Carlos Alcaraz dan Frances Tiafoe di babak sebelumnya, Shelton mengakui keunggulan lawannya.
"Saya melakukan terlalu banyak kesalahan ketika bola berada di raket saya. Tidak mudah. Bermain melawan pemain seperti dia, peluangnya sangat sedikit," kata Shelton. (AFP/H-4)


















































