Alih Media 'Avatar' ke Live-Action, Akademisi IKJ: Industri Manfaatkan Kepastian Pasar

4 hours ago 9
 Industri Manfaatkan Kepastian Pasar Ilustrasi(Dok Istimewa)

KEHADIRAN serial live-action Avatar: The Last Airbender di platform streaming Netflix tidak sekadar menjadi ajang alih media dari animasi ke aksi peran nyata. Langkah ini membuktikan betapa besarnya potensi pasar nostalgia dan kekuatan basis penggemar lama dalam mendorong daya saing industri hiburan global.

Pengamat industri perfilman sekaligus Akademisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Satrio “Pepo” Pamungkas, menilai bahwa kekayaan narasi yang telah memiliki basis massa kuat memberikan rasa percaya diri lebih bagi produsen untuk menginvestasikan modalnya.

"Nostalgia dalam seni hiburan itu pasti, bahkan sangat kuat. Apalagi kalau sebuah karya memang sudah mempunyai basis penonton yang banyak. Industri pasti melihat bagaimana pasar sebelumnya dicoba untuk dihadirkan kembali," kata Pepo dalam keterangannya, Selasa (21/7/2026).

Meski kekuatan nostalgia menjadi jaminan modal awal, Pepo mengingatkan bahwa mengandalkan nama besar saja tidak pernah cukup. Karya adaptasi live-action tetap dituntut memiliki daya pikat baru agar mampu menggaet penonton lama sekaligus merangkul generasi penonton baru.

"Tetap harus ada unique selling point yang bisa menghadirkan kembali penonton lama sekaligus memperoleh penonton yang lebih banyak," lanjutnya.

Salah satu nilai tambah dari format serial dibanding film layar lebar tunggal adalah ketersediaan durasi yang lebih lapang. Hal ini memberi ruang ideal bagi kreator untuk membangun kedalaman emosi, relasi antar-karakter, serta pengembangan dunia cerita secara bertahap.

"Melalui serial, kita menjadi lebih terikat, lebih dekat, dan lebih pekat dalam mengikuti cerita maupun tokoh-tokoh lain di luar tokoh utama," jelas Pepo.

Menanggapi adanya perbedaan plot antara versi animasi orisinal dan live-action, Pepo menganggap hal tersebut sebagai konsekuensi alami dari proses penyesuaian medium seni. Penyederhanaan alur maupun penyesuaian karakter merupakan langkah tak terelakkan agar pas dengan durasi tayang.

"Itulah uniknya adaptasi. Tidak harus sama karena ada pengembangan. Perubahan itu merupakan bagian dari keindahan seni ketika sebuah karya berpindah dari bentuk seni yang satu menjadi bentuk seni yang baru," paparnya. (H-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |