Antisipasi Rusia, Inggris dan Jerman Kembangkan Rudal Jarak Jauh

4 hours ago 9
Antisipasi Rusia, Inggris dan Jerman Kembangkan Rudal Jarak Jauh Ilustrasi rudal jarak jauh.(Dok. AFP/JACK GUEZ)

INGGRIS dan Jerman dilaporkan tengah menjalin kerja sama strategis untuk mengembangkan rudal jelajah jarak jauh baru dengan daya jangkau hingga 2.000 kilometer. Proyek ambisius ini ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2034 sebagai bagian dari upaya memperkuat pertahanan Eropa.

Laporan harian Jerman, Die Welt, pada Selasa (21/7/2026), menyebutkan bahwa pengembangan senjata ini merupakan inti dari inisiatif Deep Precision Strike (DPS). Proyek tersebut dipimpin secara kolaboratif oleh London dan Berlin guna meningkatkan kapabilitas serangan presisi di kawasan.

Inisiatif Pertahanan Kolektif Eropa

Inisiatif DPS ini telah menarik minat luas di Benua Biru. Pada awal Juli 2026, tercatat sepuluh negara Eropa telah bergabung dalam inisiatif tersebut. Fokus utamanya adalah menciptakan sistem rudal jarak jauh yang mampu menjangkau sasaran lebih dari 1.200 mil atau sekitar 1.930 kilometer.

Langkah ini dipandang sebagai respons strategis untuk mengantisipasi potensi eskalasi konflik dengan Rusia di masa depan. Meskipun rincian teknis proyek masih dijaga ketat, laporan tersebut mengungkapkan pembagian peran yang jelas: pengembangan akan mengandalkan keunggulan teknologi Inggris, sementara Jerman akan memberikan dukungan pendanaan yang signifikan.

Teknologi Hipersonik dan Ketinggian Rendah

Saat ini, tim pengembang dilaporkan tengah mempertimbangkan dua konsep utama untuk sistem rudal masa depan tersebut:

  • Rudal Stealth: Kemampuan terbang pada ketinggian sangat rendah untuk menghindari deteksi radar lawan.
  • Rudal Hipersonik: Kemampuan melaju hingga lima kali kecepatan suara (Mach 5) untuk menembus sistem pertahanan udara modern.

Proses pengembangan dikabarkan telah dimulai dan saat ini berjalan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh kedua negara.

Di sisi lain, pihak Moskow berulang kali membantah memiliki ambisi agresif terhadap Eropa Barat. Dalam wawancara dengan jurnalis AS Tucker Carlson pada 2024, Presiden Vladimir Putin menegaskan bahwa Rusia tidak berniat menyerang negara-negara anggota NATO, dan menyebut skenario tersebut sebagai hal yang tidak masuk akal.

Kehadiran proyek DPS ini menandai babak baru dalam perlombaan senjata dan arsitektur keamanan di Eropa, di mana negara-negara besar mulai mengurangi ketergantungan pada sistem persenjataan luar kawasan dan beralih ke pengembangan mandiri yang lebih terintegrasi. (Ant/Sputnik/H-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |