Ilustrasi(Dok Magnific)
KERACUNAN makanan dapat terjadi ketika seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi kuman, virus, parasit, maupun zat kimia berbahaya. Kontaminasi dapat terjadi pada berbagai tahap, mulai dari proses pengolahan, penyimpanan, hingga penyajian makanan.
Gejala Keracunan Makanan
Gejala keracunan makanan dapat berbeda bergantung pada jenis kuman yang masuk ke tubuh. Keluhan dapat muncul dalam hitungan jam setelah makanan yang terkontaminasi dikonsumsi, tetapi pada beberapa jenis kuman, gejala baru muncul setelah beberapa hari.
Gejala keracunan makanan yang paling umum meliputi:
- Diare
- Sakit perut atau kram
- Mual
- Muntah
- Demam
Kondisi ini dapat dipicu oleh makanan yang tidak dimasak atau dipanaskan kembali secara menyeluruh, tidak disimpan dengan benar, dibiarkan terlalu lama, dipegang oleh seseorang yang sakit atau belum mencuci tangan, maupun dikonsumsi setelah tanggal atau ekspayet.
Cara Mengatasi Keracunan Makanan pada Anak
Jika anak mengalami keracunan makanan, kondisi tersebut biasanya dapat ditangani di rumah. Gejala umumnya membaik dalam waktu sekitar satu minggu. Hal terpenting yang perlu diperhatikan adalah memastikan anak tetap mendapatkan cukup cairan untuk mencegah dehidrasi.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Pastikan anak beristirahat. Tetap di rumah dan berikan waktu istirahat yang cukup.
- Berikan cairan sedikit demi sedikit. Air dapat diberikan dalam jumlah kecil tetapi sering, terutama jika anak merasa mual. Larutan rehidrasi oral juga dapat digunakan untuk membantu mengganti cairan yang hilang.
- Tetap berikan ASI atau susu botol. Jika bayi muntah, berikan dalam jumlah lebih kecil dan lebih sering dari biasanya.
- Berikan makanan saat anak sudah mampu makan. Anak dapat kembali makan ketika sudah merasa sanggup. Sebaiknya hindari makanan berlemak atau pedas.
- Perhatikan pemberian parasetamol. Obat dapat diberikan jika anak merasa tidak nyaman, tetapi petunjuk penggunaan perlu diperiksa terlebih dahulu.
Hal yang Tidak Boleh Dilakukan
- Jangan memberikan minuman bersoda karena dapat memperburuk diare.
- Jangan mengencerkan susu formula bayi. Gunakan sesuai konsentrasi biasanya.
- Jangan memberikan obat untuk menghentikan diare kepada anak di bawah usia 12 tahun.
- Jangan memberikan aspirin kepada anak di bawah usia 16 tahun.
Kapan Anak Perlu Mendapatkan Pertolongan Medis?
Jika kondisi anak semakin memburuk, orang tua perlu segera mencari pertolongan medis. Tanda yang perlu diwaspadai antara lain:
- Muntah tidak normal, seperti muntah darah, menyerupai bubuk kopi, atau berwarna kuning kehijauan/hijau.
- Nyeri atau gejala berat, seperti leher kaku dan nyeri saat melihat cahaya terang, sakit kepala atau sakit perut yang tiba-tiba dan parah.
- Perubahan kondisi fisik, seperti kulit, bibir, atau lidah menjadi biru, abu-abu, pucat, atau berbintik, serta kesulitan bernapas.
- Perubahan kesadaran atau kemungkinan keracunan, seperti anak tampak bingung, tidak merespons seperti biasa.
Jika salah satu tanda tersebut muncul, orang tua harus segera membawa anak untuk mendapatkan pertolongan medis. (Chatrine Simanjuntak/E-4)


















































