Ilustrasi--Pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Bank Syariah Indonesia, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (21/1/2026).(ANTARA/Hafidz Mubarak A)
PASAR valuta asing (valas) atau foreign exchange (FX) bersiap menghadapi volatilitas tinggi memasuki September 2026. Sejumlah risiko besar membayangi, mulai dari keputusan krusial tiga bank sentral utama dunia hingga ketegangan geopolitik yang memicu lonjakan harga komoditas.
Dalam laporan Traders Outlook dari broker global Elev8, periode 10 hingga 18 September 2026 akan menjadi pekan yang sangat padat. Tiga otoritas moneter tertinggi, The Federal Reserve (The Fed), European Central Bank (ECB), dan Bank of Japan (BOJ), dijadwalkan menggelar rapat kebijakan dalam rentang waktu hanya delapan hari.
Kilas Balik Kinerja Mata Uang Agustus 2026
Risiko di bulan September muncul setelah pergerakan mata uang yang bervariasi sepanjang Agustus. Berdasarkan pantauan terhadap 22 mata uang global, terjadi divergensi tajam antara negara dengan fundamental kuat dan negara yang menghadapi tekanan fiskal.
| Kinerja Terbaik | Rand Afrika Selatan (ZAR) | Didukung reformasi struktural dan kenaikan harga emas/platinum. |
| Kinerja Terlemah | Real Brasil (BRL) | Tekanan fiskal; utang bruto mencapai 81,9% dari PDB. |
| Mata Uang Utama Terkuat | Dolar Australia (AUD) | Naik hampir 2% berkat stabilitas fiskal dan harga komoditas. |
| Mata Uang Utama Terlemah | Yen Jepang (JPY) | Tertekan kesenjangan suku bunga; USD/JPY menembus level 160. |
Tiga Agenda Besar Bank Sentral
Fokus pasar kini tertuju pada keputusan suku bunga yang akan menentukan arah likuiditas global:
- ECB (10 September): Bank sentral Eropa diperkirakan akan menaikkan suku bunga. Kelompok hawkish di dalam dewan mulai mempertimbangkan untuk membawa suku bunga deposito ke wilayah restriktif di atas 2,50%.
- The Fed (16 September): Setelah pidato Kevin Warsh di Jackson Hole, ekspektasi kenaikan suku bunga AS meningkat. Data nonfarm payroll (NFP) yang dijadwalkan rilis 5 September dan data inflasi (CPI) pada 11 September akan menjadi penentu utama.
- BOJ (18 September): Pasar memperhitungkan peluang 85%–90% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 1,25%. Namun, penguatan Yen mungkin terbatas jika The Fed juga menaikkan suku bunga di pekan yang sama.
Risiko Minyak dan Perang Dagang
Di luar kebijakan moneter, eskalasi konflik antara AS dan Iran pada akhir Agustus telah mendorong harga minyak Brent mendekati US$100 per barel. Lonjakan biaya energi ini berpotensi menguntungkan eksportir minyak seperti Kanada, namun menekan importir besar seperti India dan Thailand.
Selain itu, ketegangan perdagangan antara AS dan Kanada meningkat setelah pemberlakuan tarif Pasal 338 sebesar 50% terhadap barang-barang Kanada senilai US$20 miliar. Langkah balasan dari Kanada diprediksi akan meningkatkan volatilitas pada pasangan mata uang Dolar Kanada (CAD).
Secara keseluruhan, kombinasi dari utang global yang mencapai rekor US$353 triliun, aksi jual obligasi, dan ketidakpastian geopolitik menjadikan periode pertengahan September sebagai salah satu fase paling berisiko bagi para pelaku pasar valas di tahun 2026. (Z-1)


















































