Apakah Trump Peduli jika Rusia Bantu Iran Targetkan Pasukan AS?

1 day ago 14
Apakah Trump Peduli jika Rusia Bantu Iran Targetkan Pasukan AS? Donald Trump.(Al Jazeera)

Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluncurkan perang terhadap Iran dengan salah satu tujuan utama menghentikan pendanaan Teheran terhadap kelompok-kelompok proksi di Timur Tengah. Kelompok-kelompok tersebut, menurut Trump, bertanggung jawab atas melukai dan tewasnya sejumlah besar tentara Amerika Serikat.

Namun, terkait pertanyaan apakah Rusia membantu Iran dalam menargetkan personel Amerika tersebut, Trump menunjukkan sikap yang sangat tidak acuh. Pola ini mulai terlihat sebagai sikap yang familiar bagi sang presiden dalam menghadapi isu sensitif yang melibatkan Moskow.

Kontradiksi di Internal Kabinet

Contoh terbaru muncul dari kesaksian Menteri Pertahanan Pete Hegseth di hadapan komite Senat pekan lalu. Saat ditanya apakah Tiongkok dan Rusia membantu Iran, Hegseth membenarkan ada cara-cara kedua negara tersebut memungkinkan beberapa hal yang dilakukan Iran.

Dua hari kemudian, Menteri Luar Negeri Marco Rubio memilih untuk mengabaikan pertanyaan mengenai subjek yang sama saat duduk berhadapan dengan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov. Ketidaksinkronan ini semakin dipertegas ketika Trump mengeluarkan pernyataan di media sosial yang secara langsung membantah keterangan Hegseth.

Trump menyatakan bahwa menurut pendapatnya, Tiongkok dan Rusia tidak berpartisipasi dalam perang Iran karena para pemimpin negara tersebut meyakinkannya bahwa mereka tidak menjual senjata ke Teheran. "Saya pikir, Anda tahu, saya mempercayai mereka," ujar Trump. Ia menambahkan bahwa ia tidak yakin mereka ingin membuatnya kecewa.

Dugaan Bantuan Citra Satelit dan Intelijen

Tuduhan terhadap Rusia tidak hanya terbatas pada pasokan senjata. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebutkan bahwa Moskow memberikan citra satelit pangkalan AS kepada Iran. Menanggapi hal ini, Trump kembali meremehkan dampaknya dengan menyebut informasi tersebut tidak berdampak.

Meskipun Trump berjanji akan menanyakan hal itu langsung kepada Vladimir Putin, laporan mengenai keterlibatan Rusia bukanlah berita baru. Sejak Maret lalu, laporan intelijen yang dikutip berbagai media menyebutkan Rusia menyediakan data target militer AS kepada Iran. Selain itu, pejabat AS dan Eropa meyakini Moskow menyediakan drone dan suku cadangnya, meski hal ini dibantah oleh Kremlin.

Gedung Putih melalui Sekretaris Pers Karoline Leavitt menyatakan bahwa benar atau tidaknya laporan tersebut tidak terlalu penting karena militer AS di bawah Trump diklaim berhasil melumpuhkan rezim Iran.

Pola Berulang sejak Periode Pertama

Sikap Trump saat ini mengingatkan pada masa jabatan pertamanya, ketika muncul laporan intelijen mengenai kemungkinan Rusia memberikan imbalan untuk penargetan pasukan AS di Afghanistan. Kala itu, Trump membantah dirinya menerima pengarahan lisan dan menyebut berita tersebut sebagai hoaks atau berita palsu.

Trump juga kerap menarik kesetaraan moral antara tindakan Rusia dengan yang dilakukan Amerika Serikat. Ia pernah menyamakan kemungkinan Rusia membantu musuh AS dengan bantuan AS kepada pasukan anti-Soviet di Afghanistan pada tahun 1980-an.

Sikap ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengamat kebijakan luar negeri. Dengan tidak menetapkan garis merah yang tegas, Trump dikhawatirkan mengirimkan pesan kepada Rusia bahwa membantu Iran menargetkan pasukan AS bukanlah hal yang akan merusak hubungan bilateral kedua negara. (CNN/I-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |