Arab Saudi di Ambang Perang Regional dengan Iran, Yaman, Irak

2 hours ago 6
Arab Saudi di Ambang Perang Regional dengan Iran, Yaman, Irak Ilustrasi.(Magnific)

ARAB Saudi, yang selama lima bulan terakhir berupaya keras menghindari keterlibatan langsung dalam konflik regional, kini berada di titik nadir kesabarannya. Meski tetap membuka jalur komunikasi dengan Teheran, Riyadh kini merasa terkepung oleh musuh dari tiga arah: Iran serta proksinya di Irak dan Yaman.

Ketegangan memuncak pada Selasa (28/7/2026) waktu setempat, ketika jet tempur Arab Saudi bersama pesawat militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara di wilayah timur Irak. Langkah ini diambil setelah kerajaan tersebut menghadapi rentetan serangan rudal dari Houthi di Yaman dan serangan drone dari milisi pro-Iran di Irak selama sepekan terakhir.

Strategi Diplomasi di Ujung Tanduk

Keterlibatan langsung dalam konflik bersenjata merupakan risiko besar bagi Riyadh. Selama satu dekade terakhir, fokus utama Kerajaan adalah membuka diri terhadap investasi asing dan menjadi kekuatan ekonomi regional. Visi ini pula yang mendorong kebijakan détente (peredaan ketegangan) dengan Iran, yang puncaknya ialah kesepakatan yang dimediasi Tiongkok pada 2023.

Namun, strategi tersebut kini berada dalam kondisi kritis. Menghadapi lawan yang mahir dalam perang asimetris dari tiga front sekaligus menjadi tantangan militer yang sangat kompleks bagi perencana pertahanan Saudi, meskipun mereka menginvestasikan puluhan miliar dolar untuk modernisasi militer dan sistem pertahanan rudal.

Ancaman Houthi dan Blokade Laut Merah

Pada akhir pekan lalu, kelompok Houthi menembakkan rudal ke dua kompleks minyak Saudi di pesisir Laut Merah. Citra satelit menunjukkan kerusakan signifikan pada fasilitas di Jazan, dekat perbatasan Yaman. Serangan ini diikuti oleh gangguan terhadap dua kapal tanker Saudi di Laut Merah setelah Houthi mengumumkan blokade di titik strategis Bab al-Mandeb.

Bagi Saudi, blokade ini ialah eskalasi besar karena mereka mengalihkan sebagian besar ekspor minyak melalui pelabuhan Laut Merah seperti Yanbu. Analis memperingatkan bahwa sekitar tiga perempat ekspor melalui jalur ini kini terpapar ancaman Houthi.

Konteks Sejarah: Arab Saudi menghabiskan tujuh tahun (sejak 2015) mencoba menundukkan Houthi di Yaman utara tetapi gagal yang justru memicu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Gencatan senjata tahun 2022 tidak pernah benar-benar berubah menjadi perdamaian permanen.

Front Irak dan Respons Tegas Riyadh

Selain dari selatan, ancaman muncul dari utara. Milisi pro-Iran di Irak meluncurkan gelombang drone yang menargetkan infrastruktur kritis di Riyadh pada Senin dan Selasa. Kementerian Pertahanan Saudi menyatakan bahwa kesabaran mereka telah habis dan langsung melakukan serangan presisi terhadap milisi di Irak timur yang terkait dengan serangan fasilitas minyak tersebut.

Komando Pusat AS (Centcom) mengonfirmasi operasi gabungan tersebut sebagai respons kuat terhadap lebih dari 30 serangan drone yang diarahkan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran. "Kerajaan menekankan tidak mencari eskalasi, tetapi akan menanggapi setiap agresi," tegas pernyataan resmi kementerian.

Dampak Ekonomi dan Ketidakpastian Global

Konflik ini mulai membebani ekonomi Saudi. Pada kuartal pertama tahun ini, Kerajaan mencatat defisit kuartalan terbesar sejak 2018 akibat peningkatan belanja pertahanan dan perlambatan ekonomi. Meskipun harga minyak yang lebih tinggi memberikan pendapatan tambahan, gangguan pada produksi dan ekspor minyak dapat mengancam proyek-proyek besar yang sedang berjalan.

Di sisi lain, Riyadh juga merasa cemas dengan ketidakkonsistenan kebijakan AS di bawah Presiden Donald Trump terkait Iran dan Gaza. Meskipun kerja sama militer tetap erat, ada kekhawatiran di Riyadh bahwa mereka akan ditinggalkan sendirian menghadapi Iran yang semakin asertif jika minat AS di kawasan tersebut memudar.

Kini, Arab Saudi berada di persimpangan jalan. Keputusan untuk membalas serangan menunjukkan bahwa Kerajaan mencapai batas toleransi terhadap tekanan militer yang terus meningkat dari proksi-proksi Iran di sekelilingnya. (CNN/I-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |