Area Pencarian Lima Jurnalis Hilang di Selat Sunda Diperluas Menjadi 6.010 NM Persegi

1 week ago 24
Area Pencarian Lima Jurnalis Hilang di Selat Sunda Diperluas Menjadi 6.010 NM Persegi Prajurit TNI AL awak KRI Kerambit-627 berusaha mengangkat benda yang ditemukan mengapung saat operasi pencarian kapal cepat yang hilang kontak di Perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Jumat (11/9/2026).(Antara)

TIM SAR Gabungan memperluas operasi pencarian kapal cepat Arupadhatu 1 yang hilang kontak di perairan Selat Sunda. Kapal tersebut membawa delapan orang, termasuk lima jurnalis, dan kini area pencarian diperluas menjadi enam sektor dengan total cakupan mencapai 6.010 nautical mile (NM) persegi.

Ahli Muda Bidang Kecelakaan Pelayaran dan Penerbangan Basarnas Rangga Aribowo mengatakan pembagian wilayah pencarian dilakukan untuk mengoptimalkan penyisiran melalui jalur laut dan udara.

"Untuk luas area pencarian 6.010 nautical mile persegi, pencariannya cukup luas, dan dibagi menjadi enam sektor terdiri dari lima sektor laut dan satu udara," katanya.

Menurut Rangga, lima sektor pencarian melalui jalur laut diberi kode V, W, X, Y, dan Z. Masing-masing sektor mendapatkan dukungan kapal dengan jumlah dan jenis berbeda sesuai dengan luas wilayah yang harus disisir.

Sektor V mencakup wilayah seluas 840 NA persegi. Dalam penyisiran sektor ini, Tim SAR mengerahkan dua kapal TNI AL, yakni KRI Kerambit dan KRI Teluk Gilimanuk.

Selanjutnya, Sektor W memiliki cakupan 1.120 NA persegi dengan dukungan satu kapal TNI AL, yaitu KAL Anyer.

Pengerahan unsur terbanyak berada di Sektor X. Wilayah seluas 681 NA persegi tersebut disisir menggunakan delapan kapal, terdiri atas KN SAR Tetuka, RBB Peucang, RIB 02 Basarnas Banten, RIB 02 Basarnas Lampung, kapal polisi 2016, kapal polisi 2013, KM Garuda, dan KM Bima.

Sementara itu, Sektor Y memiliki luas pencarian 497 NA persegi. Dua kapal yang ditugaskan untuk melakukan penyisiran di wilayah tersebut adalah KP Sanjaya dan KRI Lepu.

Adapun Sektor Z mencakup area seluas 809 NA persegi. Pencarian di sektor ini didukung KN SAR Basudewa dari Basarnas Lampung dan KN SAR Antasena dari Basarnas Jakarta.

Untuk pencarian melalui udara, satu unit helikopter disiagakan di ATS guna memantau perkembangan kondisi di sekitar perairan Selat Sunda.

Namun, penyisiran udara belum dilakukan secara langsung karena kondisi jarak pandang berdasarkan pengamatan visual sebelumnya dinilai rendah.

"Untuk sektor udara stand by memonitor perkembangan situasi di perairan Selat Sunda. Jika nanti memungkinkan dan layak terbang, maka sektor udara akan kita laksanakan," ujarnya.

Secara keseluruhan, operasi pencarian kapal Arupadhatu 1 melibatkan 15 kapal dan satu helikopter sebagai alat utama pencarian.

Jumlah personel SAR yang diterjunkan juga terus mengalami penambahan. Dalam pembaruan terakhir, sebanyak 551 personel dilibatkan untuk membantu pencarian delapan orang yang masih belum ditemukan.

Delapan orang tersebut diketahui berangkat menggunakan kapal cepat dari Dermaga Pegedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Senin (7/9) sekitar pukul 14.00 WIB. Mereka bertolak menuju kawasan Gunung Anak Krakatau sebelum kapal tersebut kemudian dilaporkan hilang kontak.

Dari delapan orang yang masih dalam pencarian, lima di antaranya merupakan jurnalis. Mereka adalah M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudhistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu, dan Donal Husni yang merupakan jurnalis lepas.

Tiga penumpang lainnya terdiri atas Warta yang bertugas sebagai nakhoda, Surakman sebagai anak buah kapal (ABK), serta Heriyanto selaku pemandu.

 Hingga kini, Tim SAR Gabungan masih melakukan penyisiran di sejumlah wilayah perairan Selat Sunda. Setiap temuan selama operasi terus dievaluasi untuk mengetahui apakah dapat menjadi petunjuk mengenai keberadaan delapan orang yang masih dicari. (Ant/E-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |