AS Blokade Pelabuhan Iran, 103 Kapal Komersial Dipaksa Ubah Haluan

4 days ago 2
AS Blokade Pelabuhan Iran, 103 Kapal Komersial Dipaksa Ubah Haluan Sejumlah kapal niaga milik Iran dan negara lain masih berlabuh di Selat Hormuz, Bandar Abbas, Iran, pada 10 September 2026.(Anadolu Agency/Fatemeh Bahrami )

KETEGANGAN di kawasan Timur Tengah kembali memuncak setelah Amerika Serikat (AS) secara resmi memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) melaporkan bahwa hingga Selasa (15/9), sebanyak 103 kapal komersial telah dipaksa untuk mengubah haluan guna memastikan kepatuhan terhadap kebijakan tersebut.

"Per 15 September, pasukan AS telah mengubah haluan 103 kapal komersial guna memastikan kepatuhan," tulis pernyataan resmi CENTCOM melalui platform X, sebagaimana dikutip dari laporan Sputnik/RIA Novosti.

Kronologi Eskalasi Konflik

Ketegangan terbaru ini berakar dari keputusan Presiden AS Donald Trump pada 8 Juli lalu, yang menyatakan bahwa gencatan senjata yang sebelumnya dicapai dengan Iran pada 18 Juni tidak lagi berlaku. Sejak pembatalan kesepakatan tersebut, militer AS telah melancarkan serangkaian serangan terhadap posisi Iran.

Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan yang menargetkan pangkalan-pangkalan militer AS di seluruh Timur Tengah. Teheran menuding Washington telah melanggar kesepakatan gencatan senjata secara sepihak.

Ringkasan Data Eskalasi AS-Iran (September 2026):

Tanggal Peristiwa Utama
18 Juni Kesepakatan gencatan senjata awal tercapai.
8 Juli Trump menyatakan gencatan senjata tidak lagi berlaku.
12 Juli Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz.
13 Juli AS umumkan blokade pelabuhan Iran dan menjadi "penjaga" Selat Hormuz.
15 September CENTCOM konfirmasi 103 kapal dipaksa ubah haluan.

Perebutan Kendali Selat Hormuz

Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi pasokan energi global, kini menjadi titik pusat konflik. Pada 12 Juli, Iran secara resmi mengumumkan penutupan selat tersebut sebagai bentuk protes atas campur tangan militer AS di kawasan. Langkah ini diambil setelah terjadi aksi saling serang yang intens antara kedua belah pihak.

Namun, sehari setelah pengumuman Teheran, Presiden Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat akan bertindak sebagai "penjaga" Selat Hormuz. Bersamaan dengan itu, Washington memberlakukan kembali blokade ketat terhadap seluruh pelabuhan Iran untuk memutus jalur logistik dan ekonomi negara tersebut.

CENTCOM mengklaim tindakan militer di laut ini merupakan respons langsung terhadap tindakan Teheran yang dianggap mengancam kapal-kapal komersial yang melintasi jalur internasional tersebut. Hingga saat ini, situasi di perairan Timur Tengah masih berada dalam status waspada tinggi seiring dengan berlanjutnya operasi blokade oleh pasukan AS.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |