Ilustrasi.(Magnific)
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump memberikan pesan tegas kepada para pemimpin industri pertahanan dalam Pennsylvania Defense and Innovation Summit bulan ini: bangun lebih banyak senjata dan bangun lebih cepat. Didampingi oleh para CEO perusahaan pertahanan terbesar Amerika dan Menteri Perang Pete Hegseth, Trump menekankan pentingnya kecepatan produksi untuk menjaga keunggulan militer AS.
"Kita memiliki kualitas terbaik di dunia," ujar Trump di hadapan para pembuat senjata di US Army War College. "Namun, kita butuh sedikit lebih banyak kecepatan."
Pernyataan itu muncul di tengah kekhawatiran mendalam mengenai terkurasnya cadangan senjata canggih AS setelah hampir 40 hari operasi tempur intensif di Iran dalam Operation Epic Fury awal tahun ini. Pemerintah AS melaporkan bahwa perang tersebut menelan biaya sebesar US$37,5 miliar (sekitar Rp610 triliun), dengan sebagian besar dialokasikan untuk amunisi.
Persediaan yang Menipis
Data dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan gambaran yang mengkhawatirkan mengenai stok amunisi AS yang sulit diganti dalam jangka pendek. Mark Cancian, penasihat senior di CSIS, menyatakan bahwa memproduksi satu rudal tunggal bisa memakan waktu satu hingga lima tahun.
Beberapa sistem persenjataan utama yang mengalami penyusutan signifikan meliputi:
- Tomahawk Land Attack Missile (TLAM): Lebih dari 1.000 unit telah ditembakkan. CSIS memperkirakan stok tidak akan kembali ke level pra-perang hingga tahun 2031.
- Sistem Patriot: Sekitar 1.430 pencegat digunakan dari perkiraan stok awal 2.330 unit. Setiap rudal pencegat ini berbiaya sekitar US$4 juta (Rp65 miliar).
- THAAD (Terminal High Altitude Area Defense): Diperkirakan antara 190 hingga 290 unit telah ditembakkan dari stok yang hanya berjumlah 360 unit.
Meskipun Trump membantah ada kekurangan dalam wawancara dengan Wall Street Journal, Pete Hegseth baru-baru ini meminta tambahan dana sebesar US$87 miliar (Rp1.415 triliun) kepada Komite Alokasi Senat untuk mengatasi kekurangan kritis peralatan militer.
Ancaman di Pasifik dan Dilema Ukraina
Kondisi stok yang menipis itu menciptakan kondisi yang disebut Cancian sebagai jendela kerentanan. Hal ini menjadi krusial mengingat potensi konflik di Pasifik terkait Taiwan yang diprediksi oleh beberapa perencana militer AS bisa terjadi sebelum tahun 2027.
Di sisi lain, tekanan juga datang dari Eropa. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengungkapkan kekhawatirannya atas penyusutan cadangan pertahanan udara AS. Sebagai perbandingan, AS memproduksi sekitar 60 hingga 65 rudal per bulan, sementara 803 rudal digunakan hanya pada hari pertama Operation Epic Fury.
Catatan Strategis: Trump baru-baru ini menawarkan Ukraina hak untuk memproduksi sistem Patriot secara domestik, langkah yang sebelumnya sudah dilakukan di Jerman dan Jepang untuk mengurangi beban manufaktur AS.
Kondisi Iran Lebih Buruk
Walaupun stok AS tertekan, Gedung Putih tetap optimistis karena kemampuan pertahanan Iran dianggap jauh lebih hancur. Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menyatakan bahwa militer AS memiliki lebih dari cukup amunisi untuk melayani tujuan strategis Presiden Trump.
Jason Brodsky dari United Against Nuclear Iran menambahkan bahwa serangan AS dan Israel mendegradasi basis industri pertahanan Teheran secara signifikan. Kapasitas Iran untuk memproduksi rudal dan drone dalam skala besar sebagian besar hancur, memaksa mereka memfokuskan sisa stok untuk mengancam Selat Hormuz.
Untuk saat ini, Washington bertaruh bahwa mereka dapat melewati periode transisi ini dengan mengandalkan diplomasi dan tekanan industri, sembari menunggu kapasitas produksi senjata Made-in-America mengejar ketertinggalan. (BBC/I-2)

















































