AS Perketat Sanksi Ekonomi Iran, Targetkan 5 Sektor Vital dan 60 Entitas

4 weeks ago 5
AS Perketat Sanksi Ekonomi Iran, Targetkan 5 Sektor Vital dan 60 Entitas Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Jenderal Besar, Asim Munir dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.(Anadolu)

PEMERINTAH Amerika Serikat (AS) secara resmi memperluas cakupan sanksi ekonomi terhadap Iran dengan menargetkan lima sektor strategis yang dianggap sebagai jalur kehidupan ekonomi negara tersebut. Langkah ini merupakan bagian dari operasi ekonomi besar-besaran yang diumumkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mengisolasi Iran secara total.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan pada Senin (24/8) bahwa sanksi sektoral baru ini dirancang untuk memutus akses Iran terhadap sumber daya vital di luar negeri. Selain menyasar sektor industri, Departemen Keuangan AS juga memasukkan puluhan nama baru ke dalam daftar hitam sanksi.

Lima Sektor Utama dan Puluhan Entitas Terdampak

Dalam konferensi persnya, Bessent merinci bahwa fokus utama sanksi kali ini mencakup sektor-sektor yang selama ini dimanfaatkan Iran untuk menjaga stabilitas ekonominya di tengah tekanan internasional. Berikut adalah rincian target sanksi tersebut:

Kategori Sanksi Detail Target
Sektor Ekonomi Vital Aset Digital, Teknologi, Emas, Penerbangan, dan Pelayaran.
Subjek Sanksi Tambahan Lebih dari 60 entitas, individu, dan kapal yang terkait dengan Iran.
Tujuan Operasi Isolasi ekonomi skala penuh dan tekanan tahap akhir konflik.

Bessent menegaskan bahwa AS kini telah memasuki tahap akhir konfliknya dengan Iran melalui peluncuran operasi ekonomi ini. Sebelumnya, pada Kamis (20/8), Presiden Donald Trump menyebut langkah ini sebagai bentuk isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya dan mendesak negara-negara sekutu untuk ikut bergabung.

Eskalasi Konflik dan Respons Tiongkok

Ketegangan antara kedua negara ini memiliki akar panjang, yang memuncak pada serangan saling balas antara AS-Israel dan Iran pada Februari lalu. Meski sempat ada nota kesepahaman penghentian permusuhan pada pertengahan Juni, kesepakatan tersebut gagal bertahan lama setelah kedua pihak kembali melancarkan serangan.

Di sisi lain, langkah agresif AS ini mendapat kritik tajam dari Tiongkok. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian, menyatakan bahwa taktik tekanan ekonomi hanya akan memperburuk situasi di Timur Tengah.

"Sanksi dan taktik tekanan tidak membantu dalam menyelesaikan masalah. Hal itu hanya akan menyebabkan eskalasi yang tidak menguntungkan siapa pun," tegas Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing. Tiongkok mendesak agar kedua belah pihak kembali ke jalur negosiasi politik dan menyatakan akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingan sah mereka dari dampak sanksi tersebut. (Sputnik/Ant/I-1)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |