Tentara Libanon berdiri di samping truk yang membawa peluncur roket ganda setelah menyitanya di desa selatan, Shouayya, Jumat (6/8).(AFP/Mahmoud Zayyat)
AMERIKA Serikat kembali memperketat tekanan terhadap Hizbullah dengan menjatuhkan sanksi baru terhadap jaringan yang dituding membantu pendanaan kelompok bersenjata Libanon tersebut. Washington juga menyebut hubungan erat Hizbullah dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), khususnya pasukan elite Quds.
Departemen Keuangan AS, Kamis (21/8), mengatakan sanksi terbaru menyasar 10 orang yang diduga terlibat dalam jaringan pemindahan uang untuk Hizbullah.
Washington menilai jaringan tersebut menjadi salah satu jalur utama kelompok itu memperoleh mata uang asing sekaligus menghindari sanksi internasional.
Dalam kebijakan terbaru, AS juga memperbarui penetapan Hizbullah sebagai organisasi teroris dengan menegaskan kelompok tersebut beroperasi untuk kepentingan rezim Iran di bawah komando IRGC.
Perubahan itu secara khusus menyebut peran Pasukan Quds, unit elite IRGC yang selama ini menjadi salah satu instrumen utama Iran dalam menjalankan operasi di luar negeri.
Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS mengatakan penetapan baru tersebut memperjelas posisi Hizbullah sebagai proksi Iran, bukan organisasi yang bergerak secara mandiri seperti yang tersirat dalam penetapan sebelumnya.
"Hal ini menegaskan bahwa Hizbullah beroperasi dengan sedikit atau bahkan tanpa memedulikan kedaulatan Lebanon, rakyat Lebanon, maupun negara Lebanon," kata pejabat tersebut.
AS pertama kali menetapkan Hizbullah sebagai organisasi teroris asing pada 1997. Empat tahun kemudian, Washington memperbarui status tersebut dengan memasukkannya sebagai kelompok teroris global yang ditetapkan secara khusus.
Pemerintah AS menilai hubungan antara Hizbullah dan IRGC mencakup aspek operasional, keuangan, hingga logistik.
"Tindakan ini melanjutkan penetapan yang telah dilakukan AS selama bertahun-tahun yang berulang kali mendokumentasikan integrasi operasional, finansial, dan logistik antara Hizbullah dan IRGC-Quds Force," ujar pejabat Departemen Luar Negeri AS.
Departemen Keuangan AS menuding jaringan yang dikenai sanksi menggunakan kurir untuk membawa uang tunai melalui penerbangan komersial yang menghubungkan Libanon, Turki, Uni Emirat Arab, dan Iran. Menurut Washington, jaringan tersebut dapat memindahkan uang hingga ratusan juta dolar antarwilayah.
"Jaringan ini menggunakan kurir yang bepergian dengan penerbangan komersial antara Lebanon, Turki, Uni Emirat Arab, dan Iran untuk memindahkan uang hingga ratusan juta dolar antarwilayah," kata Departemen Keuangan AS.
Skema tersebut dinilai memungkinkan Hizbullah memperoleh valuta asing di luar sistem keuangan formal sekaligus menghindari sanksi AS.
(AFP)


















































