Ilustrasi(Anadolu Agency)
PEMERINTAHAN Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump tengah mempersiapkan langkah drastis untuk memperketat tekanan terhadap Iran. Washington berencana meluncurkan paket sanksi baru yang diklaim akan menciptakan isolasi ekonomi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya di panggung global.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengungkapkan bahwa strategi ini akan menggunakan pendekatan dua arah. Selain melalui instrumen finansial konvensional, AS juga akan menerapkan tekanan fisik dengan mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan utama Iran melalui pembatasan ketat aktivitas di Selat Hormuz.
Dalam wawancara dengan jaringan televisi Newsmax pada Kamis (13/8/2026) waktu setempat, Bessent menegaskan bahwa langkah ini dirancang untuk memutus total akses perdagangan Teheran. Ia memberikan sinyal kuat bahwa pengumuman resmi mengenai detail kebijakan ini akan dilakukan pada pekan depan.
“Ini akan menjadi kombinasi isolasi ekonomi seperti yang belum pernah dilihat dunia sebelumnya. Blokade yang berlanjut di Selat Hormuz akan membuat apa pun tidak bisa masuk atau keluar dari pelabuhan-pelabuhan Iran,” tegas Bessent.
Langkah ini menandai eskalasi signifikan dalam hubungan diplomatik dan ekonomi kedua negara. Fokus Washington kini tidak hanya terbatas pada pembekuan aset atau larangan transaksi perbankan, tetapi juga menyasar jalur logistik fisik yang menjadi urat nadi ekspor komoditas Iran.
Pergeseran Prioritas Washington
Kebijakan agresif ini sejalan dengan arah strategis yang sebelumnya dipaparkan oleh Wakil Presiden AS, JD Vance. Pemerintahan Trump saat ini menempatkan stabilitas harga energi domestik sebagai prioritas tertinggi, mengungguli isu pencegahan senjata nuklir yang kini bergeser ke posisi kedua.
Prioritas Strategis AS terhadap Iran:
- Prioritas Utama: Menekan harga minyak dan bensin bagi masyarakat Amerika Serikat.
- Prioritas Kedua: Pencegahan Iran memperoleh senjata nuklir.
- Metode Eksekusi: Kombinasi sanksi finansial dan blokade fisik Selat Hormuz.
Dampak Pasar dan Ketidakpastian
Sikap terbaru ini menunjukkan perubahan nada yang cukup tajam dibandingkan pernyataan Bessent pada awal Agustus. Sebelumnya, pada 4 Agustus, Bessent sempat memberikan optimisme kepada pasar melalui wawancara dengan CNBC, menyatakan bahwa kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz dapat tercapai dalam hitungan hari.
Pernyataan awal tersebut sempat memicu penguatan di bursa saham Wall Street dan menekan harga minyak dunia. Namun, dengan munculnya ancaman isolasi ekonomi total ini, harapan akan penyelesaian cepat di Selat Hormuz tampaknya memudar, memberikan ketidakpastian baru bagi pasar energi global.
| 4 Agustus 2026 | Kesepakatan Selat Hormuz mungkin tercapai dalam hitungan hari. | Wall Street menguat, harga minyak turun. |
| 13 Agustus 2026 | Ancaman isolasi ekonomi skala besar dan blokade fisik pelabuhan. | Ketidakpastian pasar meningkat, ancaman pasokan energi. |
Washington kini meminta pelaku pasar dan komunitas internasional untuk memantau perkembangan lebih lanjut pada pekan depan, saat paket sanksi tersebut dijadwalkan akan diumumkan secara terperinci. (AFP/Dhk//I-1)















































