AS Siapkan Sanksi Negara Pembeli Minyak Iran, Tiongkok Melawan

4 weeks ago 6
AS Siapkan Sanksi Negara Pembeli Minyak Iran, Tiongkok Melawan Ilustrasi: Seorang wanita berjalan melewati graffiti anti-Amerika Serikat di luar bangunan bekas Kedutaan Besar AS yang kini dijadikan Museum Den of Spies di Teheran, Iran.( ATTA KENARE / AFP)

PEMERINTAH Amerika Serikat mengumumkan peluncuran sanksi ekonomi bertajuk Operation Economic Outcast. Langkah keras ini mengancam akan memutus akses sistem keuangan Dolar AS bagi negara atau entitas mana pun yang masih menjalin hubungan ekonomi dengan Iran, di tengah upaya Washington mengakhiri kebuntuan militer yang telah berlangsung selama enam bulan.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengibaratkan agresi ekonomi ini setara dengan operasi pendaratan D-Day pada Perang Dunia II. "Tujuan kami adalah memutuskan setiap urat nadi ekonomi yang menopang rezim di Teheran sampai mereka benar-benar terisolasi secara global," ujar Bessent pada konferensi pers di Washington.

Target utama dari sanksi sekunder ini mengarah pada ekspor minyak Iran. Meski Washington belum merinci secara eksplisit apakah sanksi akan menyasar Tiongkok, pembeli terbesar minyak Iran yang menyerap 80 persen pasokan tahun lalu, Bessent menegaskan tidak ada negara yang kebal dari cakupan sanksi ini.

Respons cepat langsung ditunjukkan oleh Uni Emirat Arab (UEA) yang mengumumkan pembekuan hubungan dagang dengan Iran. Di sisi lain, Kedutaan Besar Tiongkok di Washington menolak tekanan tersebut dan mendesak dilakukannya dialog diplomasi, sementara Turki masih belum memberikan tanggapan resmi.

Iran Ancam Balasan Militer

Langkah agresif AS memicu tanggapan keras dari Teheran. Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Ali Abdollahi, menegaskan pihaknya siap melancarkan pembalasan melalui operasi darat, laut, udara, hingga serangan siber terhadap negara-negara yang mendukung aksi isolasi AS.

Eskalasi ekonomi ini terjadi setelah operasi militer AS dan Israel pada awal tahun 2026 gagal memaksa Iran menghentikan pengayaan uraniumnya. Kebuntuan tersebut sebelumnya dipicu oleh penutupan Selat Hormuz oleh Iran, yang berujung pada aksi blokade balasan oleh AS dan mengguncang pasar energi global.

Meskipun fokus saat ini tertuju pada sanksi finansial, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa opsi militer tetap terbuka lebar. "Kami sama sekali tidak menutup kemungkinan untuk melakukan serangan kinetik susulan di Selat Hormuz maupun di wilayah Iran," pungkas Hegseth.

(Theguardian/P-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |