Seorang pejalan kaki berjalan melewati pompa bensin di Tokyo, Jepang, 16 Maret 2026. Pada 16 Maret 2026, pemerintah Jepang mengumumkan mulai melepaskan cadangan minyaknya sebagai tanggapan atas blokade de facto di Selat Hormuz.
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Gencatan senjata Amerika Serikat (AS) dan Iran pada pekan ini dinilai hanya akan menghentikan pertempuran di lapangan. Perang ekonomi antar kekuatan besar diprediksi akan terus membentuk wajah politik dan perdagangan dunia.
Laporan eksklusif Wall Street Journal (WSJ) oleh Jason Douglas bertajuk "Iran Shows You Don’t Have to Be a Superpower to Wage Economic Warfare", yang dilansir Al Mayadeen, menyoroti bagaimana Teheran memanfaatkan posisi strategisnya dalam perang kali ini.
Menurut Douglas, pengaruh Teheran atas Selat Hormuz membuktikan bahwa kendali terhadap jalur air yang krusial mampu memberikan posisi tawar signifikan dalam ekonomi global yang saling terhubung di selat sempit yang menjadi salah satu koridor energi paling penting di dunia.
Skenario di balik gencatan senjata Trump
Selama agresi AS-Israel terhadap Iran, penutupan Selat Hormuz sempat memicu lonjakan harga minyak hingga melampaui 100 dolar AS per barel. Gangguan ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keamanan energi global dan menekan Washington untuk segera melakukan de-eskalasi.
Presiden AS Donald Trump akhirnya menyetujui gencatan senjata dengan klaim bahwa tujuan militer telah tercapai, asalkan selat tersebut dibuka kembali. Di sisi lain, Teheran mengindikasikan rencana untuk mengenakan biaya transit bagi kapal yang melintasi selat tersebut. Langkah ini dinilai sebagai upaya Iran menjaga pengaruh jangka panjang atas jalur strategis dunia.
Para analis mencatat bahwa Iran hanyalah bagian dari tren global di mana negara-negara semakin sering menggunakan titik tekan ekonomi untuk memajukan tujuan kebijakan luar negeri.
Amerika Serikat dinilai sejak lama mengandalkan sistem keuangan berbasis dolar untuk menjatuhkan sanksi dan mendominasi teknologi semikonduktor demi membatasi kemajuan militer China.
Sementara itu, China memanfaatkan monopoli mineral tanah jarang (rare earth) yang sangat penting bagi industri ponsel pintar hingga sistem pertahanan untuk memengaruhi negosiasi perdagangan.

8 hours ago
5

















































