Sampah Menggunung Teratasi, Wajah Baru Pasar Induk Kramat Jati Mulai Terlihat

7 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pagi di Pasar Induk Kramat Jati biasanya dimulai dengan hiruk-pikuk yang nyaris tak pernah benar-benar tidur. Truk-truk sayur datang silih berganti, aroma buah segar bercampur dengan suara tawar-menawar yang seperti ritme lama kota.

Namun beberapa hari lalu, ritme itu sempat terganggu, oleh sesuatu yang diam, tetapi mencolok: tumpukan sampah yang menggunung, seolah menjadi bayangan dari aktivitas yang terlalu padat.

Di tengah tekanan itu, upaya pembersihan dilakukan bukan sekadar sebagai pekerjaan teknis, melainkan sebagai upaya memulihkan denyut kehidupan pasar. Perusahaan Umum Daerah Perumda Pasar Jaya bergerak cepat.

Sejak 2 hingga 10 April 2026, ratusan armada dikerahkan, menyisir sudut-sudut pasar yang sebelumnya tertutup timbunan. Sedikit demi sedikit, gunungan itu surut, seperti air yang kembali ke hilirnya.

Direktur Utama Agus Himawan menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari pelayanan kepada masyarakat. Namun lebih dari itu, ia adalah bentuk tanggung jawab terhadap ruang hidup bersama. Pasar, dalam pengertian ini, bukan hanya tempat transaksi, tetapi juga ruang sosial yang menuntut kebersihan sebagai prasyarat kenyamanan.

Dalam catatan Pasar Jaya, sebanyak 228 rit pengangkutan dilakukan, didominasi armada tronton, disusul typar, yang bekerja hampir tanpa jeda.

Angka-angka itu mungkin terdengar teknis, tetapi di baliknya ada cerita tentang kerja yang tak terlihat: tentang sopir yang berangkat sebelum fajar, tentang petugas yang mengangkat, memilah, dan memastikan tidak ada yang tertinggal.

Lonjakan volume sampah memang tak terelakkan. Aktivitas tinggi di pasar terbesar di ibu kota ini menghasilkan residu yang juga besar. Di sinilah persoalan klasik kota modern kembali menemukan wajahnya: bagaimana mengelola sisa dari produktivitas manusia. Jawabannya tidak cukup hanya dengan mengangkut, tetapi juga mengubah cara pandang.

Karena itu, kolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menjadi penting. Sinergi ini bukan sekadar pembagian tugas, melainkan penyatuan visi, bahwa kebersihan adalah sistem, bukan reaksi sesaat. Pengangkutan dilakukan setiap hari dengan frekuensi tinggi, memastikan bahwa pasar tidak lagi memberi ruang bagi penumpukan yang berulang.

sumber : Antara

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |