Ilustrasi--Relawan membagikan masker kepada warga di Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (22/11/2025).(ANTARA/Irfan Sumanjaya)
PAPARAN abu vulkanik di sejumlah kawasan kini menjadi ancaman serius bagi para pengguna jalan, khususnya pengendara sepeda motor. Selain membatasi jarak pandang, material vulkanik ini secara signifikan dapat menurunkan daya cengkeram ban, yang pada akhirnya meningkatkan risiko kecelakaan fatal.
Praktisi keselamatan berkendara sekaligus Pendiri dan Kepala Instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, menegaskan bahwa abu vulkanik tidak boleh dianggap remeh. Menurutnya, dampak material ini jauh lebih kompleks daripada sekadar masalah visibilitas.
“Abu vulkanik yang menutup permukaan jalan dapat bertindak seperti lapisan pasir halus. Hal ini menyebabkan grip ban turun drastis sehingga kendaraan lebih mudah mengalami selip, terutama saat melakukan pengereman atau menikung,” ujar Jusri pada Minggu (8/9).
Ia menambahkan bahwa pengendara sepeda motor memiliki risiko yang jauh lebih besar dibandingkan pengemudi mobil. Hal ini disebabkan oleh bidang kontak ban sepeda motor dengan aspal yang sangat terbatas, sehingga stabilitas kendaraan roda dua sangat rentan terganggu oleh lapisan abu.
Risiko Kesehatan dan Kerusakan Mesin
Selain aspek mekanis di jalan raya, Jusri juga menyoroti ancaman kesehatan. Partikel abu yang masuk ke dalam helm tidak hanya mengganggu penglihatan, tetapi juga berisiko terhirup dan merusak saluran pernapasan. Tidak berhenti di situ, kendaraan pun terancam mengalami kerusakan teknis.
Tabel: Dampak Abu Vulkanik pada Pengendara dan Kendaraan
| Keselamatan Jalan | Ban selip, kehilangan traksi (grip), dan jarak pandang terbatas. |
| Kesehatan | Iritasi mata dan gangguan saluran pernapasan akibat partikel halus. |
| Mekanikal Motor | Penyumbatan filter udara dan penurunan kinerja mesin. |
Prinsip Berkendara Defensif
Jusri menyarankan agar pengendara lebih bijak dalam mengambil keputusan. Jika lapisan abu sudah cukup tebal hingga mengubah warna dan tekstur jalan, pilihan terbaik adalah menunda perjalanan. Keputusan Road Safety yang paling defensif dalam kondisi ini bukanlah memaksakan diri, melainkan berhenti dan menunggu situasi membaik.
Namun, jika perjalanan bersifat darurat dan tidak dapat ditunda, Jusri menekankan penerapan prinsip "Slow, Smooth, Straight":
- Slow: Kurangi kecepatan secara signifikan di bawah batas normal.
- Smooth: Hindari pengereman mendadak atau akselerasi yang mengejutkan.
- Straight: Usahakan posisi motor tetap tegak dan hindari sudut kemiringan besar saat menikung untuk menjaga keseimbangan.
Terakhir, pengendara diwajibkan menggunakan alat pelindung diri tambahan seperti masker atau respirator serta pelindung mata yang rapat. Menjaga jarak aman dengan kendaraan lain juga menjadi kunci, mengingat adanya potensi manuver mendadak dari pengendara lain akibat keterbatasan pandangan.
“Jangan sampai keinginan untuk segera tiba di tujuan justru berakhir di tengah kondisi jalan yang berbahaya. Keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama,” pungkasnya. (Ant/Z-1)
















































