SkyMast(teknologi high-altitude platform World Mobile Stratospheric.)
Jaringan internet tidak lagi sepenuhnya bergantung pada menara telekomunikasi di darat. Teknologi High-Altitude Platform (HAP) SkyMast menawarkan konektivitas 4G dan 5G langsung dari stratosfer ke ponsel standar, yang berpotensi membuka akses internet bagi wilayah terpencil dan sulit dijangkau di Indonesia.
Teknologi tersebut dikembangkan oleh World Mobile Stratospheric melalui platform High-Altitude Platform (HAP) bernama SkyMast. Inovasi ini dinilai berpotensi menjadi alternatif untuk mempersempit kesenjangan konektivitas di Indonesia sebagai negara kepulauan dengan ribuan pulau dan kondisi geografis yang tidak seluruhnya memungkinkan pembangunan infrastruktur telekomunikasi konvensional.
SkyMast dirancang beroperasi di lapisan stratosfer pada ketinggian sekitar 60 ribu kaki. Dari udara, platform tersebut mampu memancarkan jaringan 4G dan 5G secara langsung ke ponsel masyarakat tanpa memerlukan parabola, terminal khusus, maupun perangkat tambahan. Setiap platform diklaim mampu menjangkau wilayah hingga sekitar 15 ribu kilometer persegi dengan latensi kurang dari satu milidetik.
Dengan kemampuan tersebut, wilayah yang selama ini menghadapi kendala pembangunan infrastruktur telekomunikasi akibat kondisi geografis maupun pertimbangan keekonomian berpeluang memperoleh akses konektivitas tanpa harus menunggu pembangunan menara di darat.
Salah satu keunggulan yang ditawarkan teknologi ini adalah kemampuannya terhubung langsung dengan perangkat seluler yang telah mendukung jaringan telekomunikasi. Pengguna tidak perlu memasang terminal khusus, parabola, maupun mengunduh aplikasi tambahan. Ponsel yang kompatibel dengan jaringan seluler dapat langsung digunakan untuk menerima layanan konektivitas yang dipancarkan dari platform di stratosfer. Teknologi tersebut membuka kemungkinan baru dalam pengembangan jaringan telekomunikasi, khususnya untuk wilayah kepulauan, daerah terpencil, dan kawasan yang sulit dijangkau oleh pembangunan infrastruktur berbasis darat.
Pengembangan SkyMast tidak hanya diarahkan untuk memperluas jangkauan jaringan. World Mobile Stratospheric juga menawarkan konsep sovereign data routing atau pengelolaan jalur data yang memungkinkan lalu lintas data tetap berada di dalam negeri. Konsep tersebut didukung infrastruktur terenkripsi yang mengacu pada standar 3GPP.
Pendekatan ini membuka peluang bagi Indonesia untuk membangun konektivitas yang tidak hanya memiliki cakupan luas, tetapi juga memberikan kendali yang lebih besar terhadap infrastruktur dan lalu lintas data nasional. Dengan demikian, pengembangan teknologi berbasis stratosfer berpotensi menjadi bagian dari pembahasan yang lebih luas mengenai konektivitas, keamanan data, dan kedaulatan digital.
Disiapkan untuk Kondisi Darurat dan Bencana
Teknologi SkyMast sebelumnya telah menjalani sejumlah demonstrasi konektivitas bersama BT di Inggris dan NEOM di Arab Saudi. Selain untuk memperluas akses telekomunikasi, platform tersebut juga dikembangkan untuk mendukung kebutuhan komunikasi dalam kondisi darurat dan bencana.
Ketika menara serta infrastruktur komunikasi di darat mengalami gangguan atau lumpuh akibat bencana, pesawat SkyMast dirancang dapat berfungsi sebagai jaringan darurat dari udara dengan memancarkan layanan 4G dan 5G langsung ke ponsel standar. Kemampuan tersebut berpotensi memberikan alternatif komunikasi ketika infrastruktur konvensional tidak dapat beroperasi secara normal.
Bidik Peluang Konektivitas di Daerah Terpencil
Di Indonesia, teknologi berbasis stratosfer ini mendapat respons dari PT Profesional Telekomunikasi Indonesia atau Protelindo. Perusahaan tersebut melihat teknologi HAP sebagai peluang untuk menghadirkan konektivitas di daerah-daerah yang selama ini sulit dijangkau oleh jaringan telekomunikasi konvensional.
“Kami lebih tahu dari siapa pun di mana menara dapat dan tidak dapat dibangun. Eksklusivitas atas stratosfer memungkinkan kami untuk melayani setiap pulau yang tidak pernah bisa dijangkau dari darat,” ungkap pihak Protelindo, Selasa (8/9/2026).
Langkah tersebut diperkuat melalui penandatanganan perjanjian eksklusif antara Combined Space Technology Limited (CST), perusahaan di balik teknologi HAP bertenaga hidrogen World Mobile Stratospheric, dan Protelindo.
Melalui kesepakatan tersebut, Protelindo menjadi mitra tunggal yang memiliki hak untuk mengakuisisi, menggunakan, mengoperasikan, serta memasarkan teknologi SkyMast di seluruh Indonesia. Perjanjian tersebut berkaitan dengan penjualan 60 persen kepemilikan saham Protelindo di CST kepada Stratospheric Holdings Limited.
Jika teknologi tersebut nantinya diterapkan secara luas, pengembangan jaringan telekomunikasi di Indonesia berpotensi memasuki pendekatan baru. Pembangunan konektivitas tidak lagi hanya mengandalkan pembangunan menara di darat, tetapi juga dapat memanfaatkan ruang udara untuk menjangkau wilayah yang selama ini berada di luar cakupan infrastruktur konvensional. Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, teknologi jaringan dari stratosfer berpotensi menjadi salah satu alternatif untuk memperluas akses komunikasi ke pulau-pulau dan daerah terpencil.
Pada akhirnya, SkyMast menawarkan gambaran tentang kemungkinan masa depan konektivitas Indonesia: menghadirkan jaringan tidak hanya dari darat, tetapi juga dari langit, untuk membuka akses komunikasi bagi lebih banyak wilayah di seluruh nusantara.
















































