Bahaya Polusi Udara bagi Kesehatan Paru-Paru dan Risiko Kanker

1 week ago 3
Bahaya Polusi Udara bagi Kesehatan Paru-Paru dan Risiko Kanker Ilustrasi(magnifik)

POLUSI udara tidak hanya mengganggu pernapasan, tetapi juga dapat meningkatkan risiko kanker paru-paru. Partikel kotoran, debu, dan gas berbahaya seperti sulfur dioksida serta ozon permukaan dapat mengiritasi hidung, tenggorokan, hingga paru-paru.

Salah satu jenis polusi udara yang berpengaruh terhadap peningkatan risiko kanker paru-paru adalah particulate matter (PM) 2.5, yakni partikel halus berukuran di bawah 2,5 mikrometer yang antara lain ditemukan pada asap kendaraan bermotor.

Jika terhirup dalam jangka waktu lama, PM2.5 dapat menumpuk di dalam sistem pernapasan sehingga berisiko mengiritasi dan merangsang terjadinya mutasi sel di dalam paru-paru. 

Berbagai Jenis Zat Polusi Udara

Hampir setiap organ dalam tubuh dapat terdampak oleh polusi udara. Karena ukurannya yang kecil, beberapa polutan udara mampu menembus aliran darah melalui paru-paru dan beredar ke seluruh tubuh, menyebabkan peradangan sistemik dan karsinogenisitas.

Polutan yang dapat menimbulkan dampak kesehatan serius meliputi partikel halus (PM), karbon monoksida (CO), ozon (O₃), nitrogen dioksida (NO₂), dan sulfur dioksida (SO₂).

Partikel halus menjadi salah satu sumber risiko kesehatan yang penting. Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel tersebut menembus jauh ke dalam paru-paru, masuk ke aliran darah, dan menyebar ke organ-organ tubuh sehingga menyebabkan kerusakan sistemik pada jaringan dan sel.

Menghirup polutan tersebut dapat menyebabkan peradangan, stres oksidatif, imunosupresi, dan mutagenisitas pada sel-sel di seluruh tubuh. Kondisi tersebut dapat berdampak pada paru-paru, jantung, otak, dan organ lainnya hingga akhirnya menyebabkan penyakit.

PM2.5 dan Risiko Kanker Paru

Karakteristik PM yang berkontribusi terhadap perkembangan kanker paru-paru meliputi jumlah partikel, komposisi, ukuran, dan luas permukaannya. Komposisi PM dapat berupa logam, senyawa organik, ion, dan karbon.

Logam berat, hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH), serta konstituen organik lainnya seperti endotoksin menjadi bagian yang berkontribusi terhadap toksisitas PM.

Paparan PM2.5 dalam jangka pendek pada tingkat tinggi dapat menyebabkan batuk, mengi, sesak napas, serta memperburuk asma dan kondisi pernapasan lainnya.

Sementara itu, paparan jangka panjang terhadap PM2.5 telah dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit paru obstruktif kronis dan penyakit kardiovaskular yang dapat menyebabkan kematian dini.

Sumber: British Journal of Cancer, WHO, Siloam Hospitals

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |