ilustrasi(Magnific)
TANGISAN bayi merupakan salah satu sinyal sosial paling awal yang dikenali manusia. Jauh sebelum anak-anak mampu menjelaskan arti dari sebuah kepedulian, mereka telah mengamati bagaimana orang dewasa merespons sesamanya yang membutuhkan pertolongan.
Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Developmental Psychology mengungkapkan bahwa bayi berusia enam bulan sudah berharap agar pengasuh menenangkan bayi yang sedang menangis, bukannya malah melanjutkan pekerjaan lain.
"Bahkan sebelum bayi dapat berbicara, mereka sudah memiliki harapan tentang pengalaman pengasuhan yang positif," kata Kexin Hu, penulis utama studi dan mahasiswa doktoral di University of Illinois Urbana-Champaign.
Mengukur Terkejutnya Bayi Lewat Tatapan Mata
Para peneliti menggunakan metode yang disebut violation-of-expectation task. Metode ini menguji apakah bayi menatap lebih lama pada kejadian yang tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan.
Tim peneliti merekam arah pandangan bayi dan mengukur berapa lama mereka menyaksikan video pengasuh. Dalam uji coba tersebut, pengasuh diperlihatkan menenangkan bayi yang menangis atau justru mengacuhkannya.
Nancy McElwain, profesor riset di departemen yang sama, menjelaskan alasan mengapa durasi tatapan mata yang lebih lama menjadi hal yang penting.
"Jika mereka melihat lebih lama pada peristiwa yang tidak terduga, itu menunjukkan bahwa mereka mencoba memahami apa yang sedang terjadi," kata McElwain. "Mereka terkejut karena ada pelanggaran ekspektasi. Sama halnya seperti bayi menunjukkan rasa terkejut ketika suatu benda menantang hukum fisika, seperti melayang di udara atau menembus benda padat, mereka berharap pengasuh tidak mengabaikan bayi yang sedang menangis."
Hasil eksperimen menunjukkan bayi rata-rata menonton video yang memperlihatkan pengasuh mengacuhkan tangisan selama kurang lebih 38,9 detik, sedangkan video pengasuh yang menenangkan bayi ditonton selama sekitar 33,2 detik. Durasi yang lebih panjang pada video pertama mengindikasikan rasa heran atau kaget karena respons orang dewasa tidak sesuai dengan harapan mereka. Pola yang sama terlihat pada kelompok bayi berusia 6, 9, hingga 12 bulan.
Pengaruh Gejala Depresi Ibu
Penelitian ini juga menemukan kaitan antara respons bayi dengan kondisi mental sang ibu. Bayi yang ibunya melaporkan lebih banyak gejala depresi cenderung menunjukkan perbedaan durasi tatapan yang lebih kecil antara peristiwa mengacuhkan dan menenangkan.
"Sangat masuk akal jika sebagian besar bayi, sejak awal kehidupan mereka, memiliki harapan positif awal untuk interaksi antarmanusia, termasuk bahwa pengasuh akan menenangkan bayi yang menangis," ujar McElwain. "Namun seiring berjalannya waktu, harapan-harapan itu dapat bergeser."
Para peneliti memberikan beberapa kemungkinan penjelasan atas keterkaitan ini. Pertama, bayi mungkin belajar dari pengasuhan harian yang mereka terima. Jika seorang ibu mengalami gejala depresi dan merespons tangisan secara kurang konsisten, bayi secara bertahap mungkin membentuk harapan yang lebih rendah terhadap rasa nyaman yang diberikan pengasuh.
Kemungkinan kedua, beberapa bayi mungkin merasa lebih sulit beradaptasi dengan lingkungan laboratorium yang asing. Jika mereka mengerahkan lebih banyak energi untuk menenangkan diri sendiri, perhatian mereka terhadap video menjadi berkurang. Faktor lain seperti sifat bawaan, pengalaman sebelum lahir, hingga tingkat stres lingkungan juga dapat memengaruhi kondisi tersebut.
Harapan Awal Sebelum Bisa Bicara
Secara keseluruhan, temuan ini memperlihatkan bahwa bayi telah membentuk pemahaman dan ekspektasi awal mengenai kepedulian serta respons sosial jauh sebelum mereka mampu menyampaikan kata-kata. Para peneliti menekankan dibutuhkannya studi dengan skala yang lebih besar untuk memahami lebih dalam bagaimana pengalaman pengasuhan dan regulasi emosi mengarahkan perkembangan sosial anak sejak dini. (Earth/Z-2)


















































