Baznas Perkuat Pengelolaan Muzaki Profesional untuk Optimalkan ZIS-DSKL

1 week ago 12
Baznas Perkuat Pengelolaan Muzaki Profesional untuk Optimalkan ZIS-DSKL ilustrasi(Antara)

Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI terus memperkuat pengelolaan muzaki secara profesional sebagai strategi utama untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat. Langkah ini bertujuan mengoptimalkan penghimpunan zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya (ZIS-DSKL) di tingkat nasional.

Hal tersebut ditegaskan oleh Pimpinan Baznas RI Bidang Mobilisasi dan Pengumpulan, Rizaludin Kurniawan, dalam Pra-Rapat Koordinasi Nasional (Pra-Rakornas) Baznas bertajuk Target dan Strategi Pengumpulan pada Baznas Provinsi dan Baznas Kab/Kota, yang digelar secara daring bersama Ketua Baznas RI, Sodik Mudjahid.

Rizaludin menyatakan bahwa pengelolaan muzaki harus dilakukan secara berkelanjutan dengan menempatkan mereka sebagai mitra strategis dalam ekosistem filantropi Islam. Menurutnya, muzaki saat ini tidak hanya mencari kemudahan bertransaksi, tetapi juga ingin melihat dampak nyata dari dana yang mereka salurkan.

“Kita perlu melakukan reorientasi dalam pengelolaan muzaki. Hubungan dengan muzaki harus kita bangun secara berkelanjutan melalui pelayanan yang baik, komunikasi terbuka, serta menunjukkan dampak nyata dari zakat yang mereka tunaikan,” ujar Rizaludin.

Tantangan Lembaga Formal

Rizaludin mengakui bahwa hingga saat ini masih banyak masyarakat yang memilih menyalurkan zakat melalui lembaga nonformal, seperti langsung kepada ustaz, masjid, atau individu. Hal ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi Baznas untuk membuktikan bahwa menyalurkan zakat melalui lembaga formal lebih utama dan terukur dampaknya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Baznas mendorong penguatan value-driven fundraising di seluruh jaringan Baznas dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) di Indonesia. Strategi ini mencakup penguatan dakwah zakat dan penyaluran program yang menghasilkan perubahan nyata bagi penerima manfaat.

Empat Pilar dan Konsep 5D

Dalam upaya menjaga keberlanjutan dan kepercayaan publik, Rizaludin memaparkan empat pilar utama value-driven fundraising:

  • Transparansi dan laporan dampak nyata.
  • Pembinaan relasi yang personal dan inklusif.
  • Penguatan branding serta reputasi lembaga yang profesional dan taat audit.
  • Pelibatan aktif muzaki dalam berbagai program kemanusiaan.

Penerapan pilar tersebut diperkuat dengan konsep 5D Baznas, yaitu: Diingat, Dipercaya, Dijangkau, Dicintai, dan Dibanggakan. Konsep ini diharapkan mampu memberikan pengalaman berzakat yang lebih bermakna bagi muzaki.

Rizaludin juga mengingatkan agar setiap rancangan program Baznas selalu berangkat dari perspektif muzaki. Program harus relevan dengan aspirasi mereka dan manfaatnya harus terlihat jelas di tengah masyarakat.

“Program itu harus diingat dan dicintai muzaki, harus terasa dekat, dan perubahannya terlihat. Maka, kalau membuat program, perspektifnya harus dari muzaki,” pungkasnya. (E-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |