ilustrasi(Magnific)
RAMAINYA perbincangan di media sosial mengenai penggunaan obat kumur secara teratur yang disebut meningkatkan risiko diabetes tipe 2, hipertensi, penyakit jantung, hingga gangguan aliran darah ke otak memantik respons para ahli. Berdasarkan laporan Channel News Asia pada Sabtu (12/9), komunitas daring dihebohkan oleh klaim tersebut.
Profesor periodontik dan kedokteran mulut di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Michigan, Dr. Purnima Kumar, menilai penggunaan obat kumur yang dijual bebas secara sesekali, seperti sekali seminggu atau sebulan, kemungkinan besar aman dan tidak merusak kesehatan mulut maupun tubuh secara umum. Kendati demikian, jika kebiasaan tersebut diulang beberapa kali sehari selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, potensi efek merusak patut diwaspadai.
Dua Kategori Obat Kumur
Menurut profesor madya periodontik di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Maryland, Dr. Vivek Thumbigere-Math, obat kumur terbagi menjadi dua kategori utama:
- Obat Kumur Terapeutik: Mengandung bahan aktif pembunuh bakteri untuk mengatasi bau mulut, penyakit gusi, dan kerusakan gigi.
- Obat Kumur Kosmetik: Bersifat sementara menutupi bau mulut dan menyegarkan rasa di mulut tanpa kandungan aktif pembunuh kuman.
Kendati fungsi dasarnya mengeliminasi bakteri berbahaya sambil mempertahankan mikroba bermanfaat, penelitian terbatas yang berkembang menunjukkan pengecualian pada antiseptik kuat seperti klorheksidin (hanya tersedia via resep dokter di Amerika Serikat).
Dalam uji coba kecil tahun 2020 terhadap 36 orang dewasa sehat di Inggris yang berkumur dua kali sehari selama tujuh hari, klorheksidin terbukti memicu pergeseran besar mikrobioma saliva, menciptakan suasana mulut lebih asam (risiko gigi berlubang naik), serta mereduksi bakteri pendukung tekanan darah sehat.
Di sisi lain, periodontis di New York City, Dr. Richard Nejat, menyatakan belum ada bukti jelas bahwa merek populer berbahan antiseptik ringan (seperti setilpiridinium klorida, minyak esensial, yodium, atau hidrogen peroksida) mengubah mikrobioma secrasi ekstrim klorheksidin. Ia tetap menyarankan menghindari penggunaan jangka panjang kecuali ada indikasi medis gigi tertentu.
Dr. Purnima Kumar menjelaskan bahwa gangguan mikrobioma oral berdampak pada kardiovaskular karena bakteri mulut mengubah nitrat makanan menjadi oksida nitrat yang merelaksasi pembuluh darah dan menurunkan tekanan darah.
Sejumlah studi memang mengaitkan penggunaan obat kumur teratur dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2 dan hipertensi, namun riset tersebut memiliki banyak keterbatasan dan belum membuktikan hubungan sebab-akibat.
Dari sisi lokal jaringan lunak, obat kumur berbasis alkohol atau peroksida berisiko mengiritasi gusi, lidah, pipi, dan jaringan lunak. Kandungan minyak esensial atau zat pembusa bahkan dapat memicu sensasi terbakar, sariawan, hingga pengelupasan mukosa oral pada skenario ekstrem.
Panduan Pemilihan dari Pakar
Para ahli menyarankan konsultasi dengan dokter gigi sebelum menggunakan obat kumur guna disesuaikan dengan kebutuhan klinis:
- Gigi Berlubang: Pilih obat kumur mengandung fluoride yang bekerja memperkuat enamel (lebih aman jangka panjang dibanding antiseptik).
- Mulut Kering: Gunakan formula perangsang atau peniru produksi air liur, serta hindari produk beralkohol (berlaku juga bagi penderita sariawan/gusi-gigi sensitif).
- Pasca-Prosedur: Pasien yang sementara tidak bisa menyikat/flossing optimal dapat memanfaatkan obat kumur terapeutik.
Gigi Sensitif: Hindari penggunaan rutin obat kumur pemutih.


















































